Inilah Ayat Yang Paling Lembut Dalam Al-Quran


Pernah suatu hari, setelah tilawah, saya membaca terjemah dari ayat-ayat yang baru saja saya baca. Lalu saya termenung ketika sampai pada firman Allah dalam Surat Az-Zumar ayat 53:

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”


Bagi saya yang saat itu sedang berada dalam salah satu titik terendah, ayat ini terasa seperti pelukan. Rasanya seperti sedang dihibur langsung oleh Allah. Seakan-akan Allah mengetahui seluruh kekacauan yang tidak sanggup saya ceritakan, lalu menenangkan saya melalui firman-Nya: jangan berputus asa.


Ada ayat yang membuat seseorang berhenti karena takut. Ada ayat yang membuatnya bangkit karena harapan. Dan ada ayat yang datang ketika seseorang bahkan sudah tidak sanggup memandang dirinya sendiri. Az-Zumar ayat 53 adalah salah satunya.
Sejak itu, saya mulai membuka penjelasan para mufasir, mendengarkan uraian para asatidz, lalu mencoba merenungi susunan ayat tersebut lebih dalam. Semakin dipelajari, semakin terasa bahwa ayat ini bukan sekadar kalimat penghiburan. Ia adalah panggilan untuk hamba – hamba Allah.
Panggilan yang disampaikan dengan lembut, tetapi tidak membiarkan manusia tetap diam di tempatnya. Panggilan yang membukakan harapan, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa waktu untuk kembali tidak tersedia selamanya.

Sebelum ayat ini, Surat Az-Zumar berbicara panjang tentang keimanan, keikhlasan, kesombongan, azab, serta kesudahan orang-orang yang menolak kebenaran. Peringatan-peringatannya dapat mengguncang jiwa. Manusia yang menyadari besarnya kesalahan mungkin akan sampai pada sebuah pertanyaan: masih mungkinkah aku diselamatkan?
Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa setelah rangkaian ancaman yang dapat menimbulkan rasa takut, Allah menghadirkan ayat ini untuk membangkitkan kembali harapan dan mengarahkan manusia menuju pantai keselamatan. Demikianlah Al-Qur’an mendidik jiwa: takut tidak dibiarkan berubah menjadi keputusasaan, sedangkan harapan tidak dibiarkan berubah menjadi kelalaian.


Allah membuka ayat tersebut dengan kata qul, katakanlah. Rasulullah ﷺ diperintahkan menyampaikan pesan ini kepada mereka yang merasa telah terlalu jauh. Seolah-olah tidak boleh ada penghalang antara pendosa dan berita tentang kasih sayang Tuhannya. Tidak boleh ada seorang pun yang menyembunyikan jalan pulang dari orang yang tersesat.
Kemudian datanglah panggilan itu:
Yā ‘ibādi…
“Wahai hamba-hamba-Ku….”

Bahkan sebelum Allah menyatakan, “Janganlah berputus asa dari rahmat Allah,” rahmat itu telah terasa melalui cara Dia memanggil mereka.
Allah dapat saja menyeru, “Wahai orang-orang yang berdosa,” atau, “Wahai orang-orang yang durhaka.” Sebab mereka memang telah berdosa dan melampaui batas. Namun bukan itu panggilan yang dipilih-Nya. Allah justru berfirman, yā ‘ibādī—wahai hamba-hamba-Ku.
Penisbatan kata ‘ibād kepada Allah dalam panggilan ini mengandung pemuliaan sekaligus kelembutan. Ibnu ‘Asyur menerangkan bahwa penegasan hubungan penghambaan itu mengisyaratkan bahwa sifat Tuhan terhadap hamba-hamba-Nya adalah merahmati mereka. Melalui panggilan tersebut kita menangkap sebuah isyarat: mereka memang telah berjalan jauh dan melukai diri sendiri dengan dosa, tetapi belum berada di luar jangkauan rahmat Allah. Mereka masih hamba-hamba yang dipanggil-Nya untuk kembali.
Di sinilah kasih sayang Allah terasa begitu dekat. Dia tidak meridai kemaksiatan mereka, tetapi Dia juga tidak membiarkan dosa menjadi alasan bagi mereka untuk menjauh selamanya. Dia tidak memuji perbuatan mereka, tetapi masih membuka hubungan melalui panggilan, menunjukkan jalan pulang, dan melarang mereka berputus asa. Panggilan yā ‘ibādī itu sendiri telah menjadi rahmat: rahmat yang mendahului pengampunan dengan memberi seorang pendosa keberanian untuk memohon ampun.
Betapa banyak manusia yang setelah melakukan kesalahan tidak lagi berani menyebut dirinya hamba Allah. Ia merasa telah kehilangan hak untuk berdoa, bersujud, atau mengetuk pintu-Nya. Namun dalam ayat ini, justru Allah yang terlebih dahulu mengembalikan identitas itu kepadanya. Bukan dosa yang menjadi nama terakhirnya. Selama kesempatan bertobat masih ada, ia tetap seorang hamba yang sedang dipanggil Tuhannya.
Maka, yā ‘ibādī bukan hanya kata pembuka sebelum larangan berputus asa. Ia adalah bagian dari pengobatan terhadap keputusasaan itu sendiri. Seorang pendosa yang merasa dibuang mendengar bahwa Allah masih memanggilnya. Seorang hamba yang merasa terlalu jauh diberi tahu bahwa jalan pulang belum ditutup. Sebelum Allah menjanjikan ampunan, Dia terlebih dahulu menyentuh hati mereka melalui sebuah panggilan kasih sayang.
Dosa mereka besar. Tetapi dosa itu tidak mengubah kenyataan bahwa mereka adalah makhluk yang masih dipanggil untuk kembali kepada Penciptanya.
Dalam sebuah hadis qudsi yang sahih, Allah menyatakan bahwa rahmat-Nya mengalahkan kemurkaan-Nya. Itu tidak berarti kemaksiatan menjadi remeh atau hukuman Allah dapat diabaikan. Justru karena rahmat-Nya itulah manusia yang pantas menerima hukuman masih diberi kesempatan untuk menyadari kesalahan, memohon ampun, dan kembali sebelum kesempatannya berakhir.
Betapa jauh perbedaan antara penilaian manusia dan keluasan rahmat Allah. Manusia mungkin mengingat seseorang melalui kesalahan terburuk yang pernah dilakukannya. Masyarakat mungkin mengurung seseorang di dalam masa lalunya. Bahkan seorang pendosa dapat menghapus seluruh kebaikan dirinya sendiri hanya karena satu halaman kelam yang terus menghantuinya. Namun panggilan Allah tidak membekukannya dalam dosa. Ia masih seorang hamba yang dapat kembali.
Melampaui Batas terhadap Diri Sendiri
Allah melanjutkan:
Alladzīna asrafū ‘alā anfusihim…
“Yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri.”
Kata isrāf menunjukkan tindakan melewati batas. Mereka tidak hanya tergelincir sekali, tetapi telah berjalan jauh melampaui batas yang Allah tetapkan. Mungkin dosa itu dilakukan berulang-ulang. Mungkin mereka mengetahui kesalahannya, lalu tetap kembali kepadanya. Mungkin dosa tersebut telah menumpuk hingga mereka tidak lagi dapat menghitungnya.
Namun perhatikan arah kezaliman itu: ‘alā anfusihim—terhadap diri mereka sendiri.
Kemaksiatan manusia tidak mengurangi kerajaan Allah. Ketaatan manusia juga tidak menambah kemuliaan-Nya. Ketika kita bermaksiat, bukan Allah yang dirugikan. Diri kitalah yang dilukai. Hati kita yang menjadi gelap. Jiwa kita yang semakin berat menerima nasihat. Waktu kita yang berkurang. Dan kita pula yang kelak harus menjawab setiap perbuatan itu.
Seorang pendosa sering mengira bahwa dengan bermaksiat ia sedang melawan Allah. Padahal sesungguhnya ia sedang memerangi keselamatan dirinya sendiri.


Karena itu, ketika Allah mengajak seorang pendosa kembali, ajakan tersebut bukan karena Allah membutuhkan ketaatannya. Allah hendak menyelamatkan hamba itu dari kerusakan yang ia timpakan kepada dirinya sendiri.


Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa sekelompok orang musyrik pernah datang kepada Rasulullah ﷺ. Mereka telah banyak membunuh dan banyak melakukan zina. Mereka mengakui bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ adalah sesuatu yang indah. Namun masa lalu menjadi penghalang besar di hadapan mereka. Mereka bertanya apakah masih ada tebusan bagi semua yang telah mereka lakukan.
Mereka tidak sedang menanyakan dosa kecil. Di antara mereka ada syirik, pembunuhan, dan zina, dosa-dosa yang disebut dengan ancaman sangat berat. Mereka telah sampai pada keadaan ketika kebenaran terlihat indah, tetapi mereka merasa terlalu kotor untuk mendekatinya.
Lalu Allah menurunkan ayat tentang larangan mempersekutukan-Nya, membunuh jiwa tanpa hak, dan berzina dalam Surat Al-Furqan. Namun rangkaian ayat itu tidak berhenti pada ancaman. Allah mengecualikan orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh. Bahkan Allah menjanjikan perubahan keburukan mereka menjadi kebaikan. Bersamaan dengan itu turun pula panggilan dalam Surat Az-Zumar:
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
Mereka datang membawa daftar dosa. Allah menjawabnya dengan keluasan ampunan.
Mereka mengira masa lalu telah mengunci masa depan. Allah menunjukkan bahwa tobat dapat membuka jalan yang mereka sangka telah tertutup.
Mereka tidak sanggup menghapus apa yang telah dilakukan. Tetapi Allah mampu mengampuninya. Bahkan dalam Surat Al-Furqan ayat 70, Allah menjanjikan sesuatu yang lebih menggetarkan: keburukan orang yang benar-benar bertobat, beriman, dan beramal saleh dapat Allah ganti dengan kebaikan.
Manusia hanya mampu menyesali masa lalu. Allah mampu mengubah nilai kesudahannya.

Setelah memanggil mereka dengan panggilan yang lembut, Allah memberikan sebuah larangan:
Lā taqnaṭū min raḥmatillāh.
“Janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
Keputusasaan kadang menyamar sebagai penyesalan. Padahal keduanya tidak sama.
Penyesalan yang sehat membawa seseorang menuju tobat. Ia mengakui dosa, menangisinya, kemudian berjalan kembali kepada Allah. Adapun keputusasaan membuat seseorang berhenti. Ia berkata, “Aku sudah terlanjur rusak. Untuk apa kembali? Allah tidak mungkin menerima orang sepertiku.”
Kalimat itu terdengar seperti pengakuan terhadap besarnya dosa. Padahal di dalamnya tersimpan prasangka yang keliru terhadap keluasan rahmat Allah.
Setan tidak selalu harus meyakinkan manusia bahwa dosa itu baik. Cukuplah ia menggoda manusia untuk melakukannya, kemudian setelah itu membuatnya yakin bahwa ia tidak mungkin diampuni. Pada tahap pertama, manusia dijauhkan dari Allah dengan kenikmatan semu. Pada tahap kedua, ia dijauhkan dengan rasa malu dan putus asa.
Dosa pun akhirnya melahirkan dosa berikutnya. Seseorang merasa dirinya sudah kotor, lalu tidak lagi menjaga shalat. Merasa doanya tidak pantas didengar, lalu berhenti berdoa. Merasa tidak layak berada di tengah orang saleh, lalu menjauhi lingkungan baik. Merasa tidak mungkin berubah, lalu kembali melakukan kesalahan yang sama.
Padahal Allah tidak berkata, “Janganlah terlalu berputus asa.” Allah melarangnya: jangan berputus asa dari rahmat Allah.
Ibnu Mas‘ud menyebut ayat ini sebagai ayat yang paling besar memberikan kelapangan. Diriwayatkan pula bahwa ketika ‘Ali bin Abi Thalib ditanya tentang ayat yang paling luas dalam Al-Qur’an, beliau menunjuk kepada Az-Zumar ayat 53. Sebab ayat ini tidak hanya memanggil orang yang sedikit bersalah. Ia memanggil mereka yang telah asrafū—melampaui batas.
Dalam sebuah riwayat dari Tsauban yang dibawakan Imam Ahmad, Rasulullah ﷺ dikabarkan menyatakan bahwa beliau tidak lebih menyukai dunia dan segala isinya dibandingkan ayat ini. Riwayat tersebut menggambarkan betapa agung harapan yang terkandung di dalamnya, meskipun sanad riwayat itu dinilai lemah oleh Syu‘aib al-Arna’uth. Karena itu, keluasan makna ayat ini terutama kita tegakkan di atas ayat itu sendiri, penjelasan para mufasir, serta riwayat sahih mengenai sebab turunnya.
Semua Dosa, tetapi Bukan Tanpa Tobat
Allah berfirman:
Innallāha yaghfirudz-dzunūba jamī‘ā.
“Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
Kata jamī‘ā menggugurkan satu demi satu alasan manusia untuk berputus asa. Dosa yang dilakukan dalam kesunyian. Dosa yang dilakukan terang-terangan. Dosa yang baru sekali dilakukan. Dosa yang berulang kali dijanjikan untuk ditinggalkan, tetapi kembali dikerjakan. Dosa kecil yang diremehkan. Dosa besar yang membuat pelakunya tidak berani menengadah.
Semuanya berada di bawah kekuasaan ampunan Allah bagi orang yang benar-benar bertobat.
Namun ayat ini tidak boleh dipisahkan dari ayat setelahnya:
“Kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu.” (QS. Az-Zumar: 54)
Maka ampunan yang luas bukanlah izin untuk terus bermaksiat. Harapan bukan alasan untuk menunda. Rahmat Allah bukan selimut untuk tidur nyenyak di atas dosa, melainkan tali penyelamat yang dilemparkan kepada orang yang hampir tenggelam. Tali itu harus diraih.
Ibnu Katsir menegaskan bahwa ayat ini merupakan seruan kepada seluruh pelaku maksiat untuk bertobat dan kembali. Semua dosa dapat diampuni bagi orang yang bertobat darinya. Adapun syirik tidak diampuni bagi orang yang membawanya sampai mati tanpa tobat. Karena itu, tidak ada pertentangan antara ayat ini dengan firman Allah bahwa Dia tidak mengampuni syirik: yang tidak diampuni adalah syirik yang tidak ditobati hingga kematian.
Selama hayat masih dikandung badan, bahkan orang yang pernah melakukan kesyirikan tetap dapat kembali melalui iman dan tobat. Bukankah orang-orang yang dahulu menyembah berhala kemudian menjadi generasi terbaik umat ini setelah mereka menerima Islam?
Yang dibutuhkan bukan masa lalu tanpa noda. Yang dibutuhkan adalah kepulangan yang jujur.
Tobat bukan sekadar mengucapkan istigfar sambil tetap memelihara dosa. Ia menuntut penyesalan, berhenti dari kemaksiatan, dan tekad untuk tidak mengulanginya. Jika dosa tersebut berhubungan dengan hak manusia, kepulangan kepada Allah juga mengharuskan kita menyelesaikan hak yang telah dirampas atau meminta kerelaan orang yang dizalimi sesuai kemampuan dan tuntunan syariat.
Kita tidak harus menunggu menjadi baik untuk bertobat. Justru melalui tobat itulah Allah memperbaiki kita.
Pulang adalah Sebuah Gerak
Ayat 53 memberikan harapan. Ayat 54 memerintahkan gerakan:
Wa anībū ilā rabbikum wa aslimū lah.
“Kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya.”
Kata anībū bukan sekadar merasa bersalah. Ia adalah gerak kembali. Ada arah yang sebelumnya ditinggalkan, kemudian dituju lagi. Ada jarak yang telah ditempuh menjauh dari Allah, lalu dipangkas satu demi satu dengan ketundukan.
Jika dahulu kaki berjalan menuju tempat maksiat, tobat mengarahkannya menuju ketaatan. Jika dahulu mata menikmati yang Allah haramkan, tobat mengajarinya menunduk. Jika dahulu lisan ringan melukai, tobat membuatnya belajar meminta maaf dan berkata baik. Jika dahulu hati bergantung kepada selain Allah, tobat melepaskan ikatan-ikatan itu dan mengembalikannya kepada Pemiliknya.
Karena itu, tobat tidak hanya mempunyai air mata. Tobat juga mempunyai langkah.
Ada orang yang menangis karena dosanya, tetapi tidak meninggalkannya. Ada yang berkali-kali mengatakan ingin berubah, tetapi terus menyediakan jalan untuk kembali kepada kebiasaan lama. Ada pula yang menunggu sebuah hari ketika hatinya akan tiba-tiba menjadi siap.


Padahal kesiapan sering kali lahir setelah langkah pertama diambil. Bukan sebelumnya.
Pulanglah meskipun tertatih. Pulanglah meskipun masih malu. Pulanglah meskipun belum mengetahui bagaimana memperbaiki semuanya. Orang yang kembali kepada Allah tidak datang karena sudah bersih. Ia datang karena mengetahui hanya Allah yang dapat membersihkannya.

Dalam ayat 54 dan 55, Allah mengulang kata min qabli—sebelum.
Kembalilah sebelum azab datang. Ikutilah wahyu sebelum hukuman datang dengan tiba-tiba. Pengulangan itu menyadarkan kita bahwa pintu tobat memang luas, tetapi usia manusia terbatas.
Kita tidak mengetahui kapan kata “sebelum” itu berakhir.
Manusia sering menunda tobat karena merasa masih mempunyai waktu. Yang muda merasa kematian masih jauh. Yang sehat merasa sakit belum mendekat. Yang sedang menikmati maksiat berjanji akan berhenti setelah merasa puas. Padahal tidak ada seorang pun yang mengetahui berapa halaman lagi yang tersisa dari kehidupannya.
Kematian tidak selalu datang setelah manusia menyelesaikan rencana. Ia tidak menunggu seseorang merasa siap. Ia juga tidak memberi kesempatan kepada manusia untuk mengulang satu hari terakhirnya.
Karena itu, kelembutan Az-Zumar ayat 53 tidak boleh membuat kita tertidur. Ayat tersebut adalah pelukan yang membangunkan. Allah menenangkan orang yang putus asa agar ia mampu berdiri, kemudian memerintahkannya segera berjalan pulang.

Setelah membuka pintu harapan dan memerintahkan manusia kembali, Allah memperlihatkan tiga ucapan penyesalan dalam ayat 56–58.
Pertama, seseorang berkata, “Betapa besar penyesalanku atas kelalaianku terhadap Allah.” Ia akhirnya mengakui bahwa selama hidup ia telah menyia-nyiakan kesempatan. Dahulu nasihat dianggap berlebihan. Ketaatan dipandang sebagai beban. Orang-orang yang mengingatkan mungkin ditertawakan. Setelah semuanya berakhir, barulah ia melihat harga dari setiap waktu yang dibuang.
Kedua, ia berkata, “Seandainya Allah memberiku petunjuk, tentu aku termasuk orang-orang bertakwa.” Penyesalan mulai berubah menjadi alasan. Ia seolah-olah menyalahkan ketiadaan petunjuk, padahal ayat-ayat Allah telah datang. Seruan telah diperdengarkan. Pintu telah ditunjukkan.
Ketiga, ketika melihat azab, ia berkata, “Sekiranya aku dapat kembali, tentu aku akan menjadi orang yang berbuat baik.” Ia tidak meminta harta. Tidak meminta jabatan. Tidak pula meminta umur panjang untuk menikmati dunia. Ia hanya meminta satu kesempatan untuk kembali dan memperbaiki amal.
Namun saat itu jawaban yang datang sangat tegas: ayat-ayat Allah telah sampai, tetapi dahulu ia mendustakan dan menyombongkan diri.
Betapa menyakitkan sebuah penyesalan ketika yang diminta adalah kesempatan yang pernah dimiliki, tetapi disia-siakan sendiri.
Hari ini kita masih memiliki apa yang kelak mereka minta: waktu untuk kembali.

Ada dua jurang yang sama-sama harus dihindari.
Jurang pertama adalah keputusasaan: merasa dosa terlalu besar sehingga tidak mau kembali. Jurang kedua adalah rasa aman yang palsu: merasa Allah Maha Pengampun sehingga tidak segera meninggalkan maksiat.
Orang pertama tidak mengenal keluasan rahmat Allah. Orang kedua tidak memahami keagungan-Nya.
Ayat 53 menyelamatkan kita dari jurang pertama. Ayat 54 dan seterusnya menyelamatkan kita dari jurang kedua. Harapan dibuka, lalu tobat diperintahkan. Ampunan dijanjikan, lalu penundaan diperingatkan. Allah adalah Al-Ghafūr, Yang berulang kali mengampuni dan menutupi dosa hamba-Nya. Dia pula Ar-Rahīm, Yang mencurahkan kasih sayang dan membimbing hamba menuju keselamatan.
Mengenal Al-Ghafūr seharusnya membuat kita berani kembali, bukan berani bermaksiat. Mengenal Ar-Rahīm seharusnya membuat kita mencintai ketaatan, bukan meremehkan perintah-Nya.
Harapan yang benar menghasilkan amal. Jika harapan membuat seseorang semakin berani melakukan dosa, boleh jadi yang dimilikinya bukan harapan kepada Allah, melainkan angan-angan terhadap keselamatan.

Ketika dahulu membaca ayat ini dalam keadaan putus asa, saya merasa sedang dipeluk oleh Allah. Perasaan itu tidak keliru. Namun setelah mempelajarinya, saya menyadari bahwa pelukan tersebut bukan untuk membiarkan saya terus terbaring di tempat yang sama.
Allah menghibur agar hamba-Nya mampu berdiri. Allah membuka harapan agar ia berani pulang. Allah menyebut keluasan ampunan-Nya agar rasa malu tidak berubah menjadi penghalang antara hamba dan Tuhannya.
Maka, dosa apa yang membuatmu merasa tidak pantas kembali?
Allah telah mengetahuinya bahkan sebelum engkau mampu mengakuinya. Namun Dia tetap memerintahkan Rasul-Nya menyampaikan: “Wahai hamba-hamba-Ku….”
Jika Allah masih membuka pintu, siapakah kita hingga merasa pintu itu telah tertutup? Jika kepada orang-orang yang telah melakukan syirik, pembunuhan, dan zina saja Allah menunjukkan jalan tobat, bagaimana mungkin kita memilih tenggelam dalam keputusasaan?
Sebaliknya, jika hari ini kita masih mendengar panggilan itu, mengapa menunggu hingga waktu pulang benar-benar habis?
Jangan tunggu menjadi bersih untuk mendatangi Allah. Datanglah kepada-Nya agar Dia membersihkanmu. Jangan tunggu hati menjadi tenang untuk bersujud. Bersujudlah agar ketenangan itu diturunkan. Jangan tunggu semua masalah selesai untuk kembali. Bawalah seluruh pecahan dirimu kepada-Nya.
Pulanglah.
Pulanglah dengan dosa yang engkau sesali. Pulanglah dengan hati yang masih bergetar. Pulanglah dengan langkah kecil yang mungkin belum sempurna. Sebab Tuhan yang memanggilmu bukan hanya mengetahui betapa jauhnya engkau telah pergi. Dia juga mengetahui jalan yang dapat membawamu kembali.
“Kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong.” (QS. Az-Zumar: 54)
Semoga Allah tidak menjadikan kita orang yang baru memahami luasnya rahmat setelah waktu untuk meraihnya berakhir. Semoga Dia mengampuni dosa-dosa yang kita ingat maupun yang telah kita lupakan, menerima kepulangan kita, memperbaiki langkah setelah tobat, dan menjaga hati agar tidak kembali tersesat setelah memperoleh petunjuk.
Wallāhu al-musta‘ān.

Rujukan Utama

QS. Az-Zumar: 53–59 dan QS. Al-Furqan: 68–70.
Shahih al-Bukhari no. 4810 dan Shahih Muslim no. 122, riwayat Ibnu ‘Abbas mengenai orang-orang musyrik yang telah banyak membunuh dan berzina.
Tafsir ath-Thabari, QS. Az-Zumar: 53, termasuk atsar Ibnu Mas‘ud dan ‘Ali bin Abi Thalib mengenai keluasan harapan ayat tersebut.
Tafsir Ibnu Katsir, QS. Az-Zumar: 53, mengenai cakupan ampunan bagi orang yang bertobat.
At-Taḥrīr wa at-Tanwīr, QS. Az-Zumar: 53, mengenai hubungan ayat harapan ini dengan rangkaian ayat ancaman sebelumnya.
Musnad Ahmad no. 22362, riwayat Tsauban mengenai keutamaan ayat; sanadnya dinilai lemah oleh Syu‘aib al-Arna’uth.
Hadis qudsi tentang rahmat Allah mengalahkan kemurkaan-Nya, diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim; lihat Riyadh ash-Shalihin no. 41

Tinggalkan komentar