Belajar dari Al Khawarizmi, Bagaimana Ia Mengembangkan Ilmu Berhitung

Peradaban Islam adalah peradaban ilmu. Tradisi peradaban Islam adalah tradisi membaca, meneliti, mengajarkan, menguji, dan mengembangkan ilmu. Peradaban ini bermula dari kata iqra’, kemudian tumbuh bersama tinta para ulama, perjalanan para pencari hadis, majelis-majelis ilmu, perpustakaan, observatorium, rumah sakit, serta karya-karya yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Pada masa kekhalifahan Abbasiyah, terutama sejakLanjutkan membaca "Belajar dari Al Khawarizmi, Bagaimana Ia Mengembangkan Ilmu Berhitung"

Anak Sebagai Ujian

Dalam buku Sentuhan Parenting, Kiai Budi Ashari menjelaskan empat posisi anak di dalam Al-Qur’an. Salah satunya adalah anak sebagai fitnah/sebagai ujian.Allah menyebutkannya dengan sangat jelas dalam Surah Al-Anfāl ayat 28:“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”Peringatan yang hampir sama kembali Allah sampaikan dalamLanjutkan membaca "Anak Sebagai Ujian"

Karena Mereka Adalah Umat Rasul

Ketika mengikuti perkuliahan Akademi Keluarga sekitar dua tahun lalu, Kiai Budi Ashari bercerita tentang pengalaman beliau bersama istrinya saat melakukan perjalanan dengan kereta. Di dalam kereta itu, ada seorang anak yang menangis. Namun, sang ibu membiarkan dan mendiamkannya. Dalam pandangan saya, mungkin ibu tersebut sedang menerapkan metode time-out: membiarkan anak menangis hingga ia mampu menenangkanLanjutkan membaca "Karena Mereka Adalah Umat Rasul"

Perempuan dan Curhatannya di Majelis Ilmu

Seorang teman pernah berkata, “Kenapa, ya, kalau bermajelis dengan sesama perempuan, biasanya nuansa pertanyaannya selalu tentang curhat? Ada yang curhat tentang anaknya, suaminya, pekerjaannya, banyak sekali.” Setelah saya pikir-pikir, perkataan itu memang ada benarnya. Apalagi setelah menjadi istri dan ibu, saya mulai memahami mengapa hal itu terjadi. Dahulu, sebelum menikah, saya dapat menempuh perjalanan Bogor–JakartaLanjutkan membaca "Perempuan dan Curhatannya di Majelis Ilmu"

Guru dan Ruh yang Tidak Bisa Diunduh

Di tengah teknologi yang semakin canggih dan kecerdasan buatan yang dapat melakukan banyak hal, orang-orang mulai membuat daftar profesi yang kemungkinan akan tergantikan dalam lima atau sepuluh tahun mendatang.Daftarnya panjang.Ada penerjemah, penulis, ilustrator, akuntan, petugas layanan pelanggan, bahkan dokter. Biasanya daftar itu dibuat oleh orang-orang yang pekerjaannya tidak masuk ke dalam daftar. Karena memang selaluLanjutkan membaca "Guru dan Ruh yang Tidak Bisa Diunduh"

Perempuan dan Kesadaran Palsu

Tujuh tahun yang lalu, ketika saya sampai di semester akhir perkuliahan, seorang adik tingkat yang beramanah di LDK menghubungi saya. Dia bilang, LDK mendapat undangan diskusi lintas agama. Tema besarnya perempuan. Adik tingkat saya ini meminta saya menjadi perwakilan LDK karena selama kurang lebih tiga tahun bergabung di sana, saya memang banyak berkutat dengan diskursusLanjutkan membaca "Perempuan dan Kesadaran Palsu"

Dari Pancasila Hingga Kisah Pasukan Bergajah

Dulu, ketika masih kuliah di Jakarta, saya dan teman-teman mengambil mata kuliah wajib yakni Pancasila. Tentu saja, sebagai warga negara yang taat kepada konstitusi, setia kepada lambang negara, dan tidak ingin mengulang mata kuliah hanya gara-gara nilai yang kurang memuaskan, kami masuk kelas itu dengan penuh kesadaran. Kabarnya, dosen yang seharusnya mengajar kami sedang melaksanakanLanjutkan membaca "Dari Pancasila Hingga Kisah Pasukan Bergajah"

Mimbar Cahaya #2 : Melahirkan Generasi Hannan

Dalam buku Jati Diri Wanita Muslimah, terdapat satu pembahasan menarik mengenai jalan menuju mimbar cahaya: menjaga lisan. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 11, Allah memberikan peringatan yang secara khusus juga ditujukan kepada para perempuan: وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ “Dan janganlah sekumpulan perempuan merendahkan sekumpulan perempuan yang lain. Boleh jadi perempuan yangLanjutkan membaca "Mimbar Cahaya #2 : Melahirkan Generasi Hannan"

Mimbar Cahaya #1 : Mencintai Karena Allah

Pekan lalu, saya menghadiri kajian bulanan yang saat ini membahas kitab Jati Diri Wanita Muslimah karya Syaikh Muhammad Ali al-Hasyimi, dalam versi terjemahan lain berjudul Kepribadian Wanita Muslimah. Pembahasan kami telah sampai pada bab “Wanita Muslimah Bersama Saudara dan Temannya”. Dalam bab tersebut, Syaikh Muhammad Ali al-Hasyimi mengutip sebuah hadis qudsi tentang mimbar cahaya. DariLanjutkan membaca "Mimbar Cahaya #1 : Mencintai Karena Allah"

Merengkuh Hikmah : Belajar Dari Surat Al Insan

Mukadimah: Sebuah Surat pada Fajar JumatSuatu hari, ketika menyimak hafalan seorang santri di program tahfiz, perhatian saya tertuju pada sebuah kolom motivasi di mushaf yang dibawanya. Saat itu ia sedang menyetorkan Surah Al-Insan. Di kolom tersebut tertulis kurang lebih begini: Rasulullah ﷺ membaca Surah Al-Insan pada pagi hari Jumat. Sepulang dari agenda itu, saya terdorongLanjutkan membaca "Merengkuh Hikmah : Belajar Dari Surat Al Insan"