Mukadimah: Sebuah Surat pada Fajar Jumat
Suatu hari, ketika menyimak hafalan seorang santri di program tahfiz, perhatian saya tertuju pada sebuah kolom motivasi di mushaf yang dibawanya. Saat itu ia sedang menyetorkan Surah Al-Insan. Di kolom tersebut tertulis kurang lebih begini: Rasulullah ﷺ membaca Surah Al-Insan pada pagi hari Jumat.
Sepulang dari agenda itu, saya terdorong untuk mencari keterangan lebih lengkap. Sampailah saya pada hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الجُمُعَةِ فِي صَلاَةِ الفَجْرِ الم تَنْزِيلُ السَّجْدَةَ، وَهَلْ أَتَى عَلَى الإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ
“Nabi ﷺ biasa membaca pada salat Subuh hari Jumat: Alif Lām Mīm Tanzīl, yakni Surah As-Sajdah, dan Hal Atā ‘alal-Insāni Hīnum minad-Dahr, yakni Surah Al-Insan.” (HR. Al-Bukhari no. 891)
Keterangan hadis itu lebih khusus daripada kalimat yang saya baca pada kolom motivasi tadi. Rasulullah ﷺ bukan sekadar membaca Surah Al-Insan pada suatu waktu di pagi Jumat. Beliau membacanya dalam salat Subuh, disandingkan dengan Surah As-Sajdah: satu surah pada rakaat pertama dan satu surah pada rakaat kedua.
Tentu, kita tidak boleh memastikan suatu alasan atas perbuatan Rasulullah ﷺ jika beliau sendiri tidak menjelaskannya. Namun, para ulama berusaha menangkap hikmah dari pemilihan kedua surah tersebut. Ibn Al-Qayyim, ketika membicarakan petunjuk Nabi ﷺ pada hari Jumat, menyebut penjelasan bahwa Surah As-Sajdah dan Al-Insan sama-sama mengingatkan manusia tentang awal penciptaan, penciptaan Adam, kehidupan kembali, pengumpulan manusia, serta kesudahan mereka di surga atau neraka.
Hari Jumat sendiri memiliki hubungan yang kuat dengan perjalanan manusia. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa pada hari Jumat Adam diciptakan, dimasukkan ke surga, dan dikeluarkan darinya. Pada hari itu pula kiamat akan terjadi. Seakan-akan pada fajar Jumat, manusia diajak membuka harinya dengan mengingat dua hal yang paling mudah ia lupakan: dari mana ia berasal dan ke mana ia akan kembali.
Barangkali itulah salah satu pelajaran yang dapat kita renungkan. Di tengah kesibukan mengejar sesuatu, Surah Al-Insan mengajak kita berhenti sejenak. Sebelum bertanya akan menjadi apa, kita diminta mengingat bahwa dahulu kita bukanlah siapa-siapa.
Sebelum Kita Menjadi Siapa-Siapa
Allah membuka surah ini dengan sebuah pertanyaan:
“Bukankah pernah datang kepada manusia suatu waktu dari masa, yang ketika itu ia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al-Insan: 1)
Pertanyaan ini tidak memerlukan jawaban panjang. Manusia hanya perlu jujur.
Sebelum lahir, kita tidak memiliki nama. Tidak memiliki jabatan. Tidak mempunyai gelar, pengikut, kekayaan, atau kekuasaan. Kita bahkan belum menjadi sesuatu yang disebut oleh manusia. Zaman telah berjalan sangat panjang tanpa kehadiran kita. Dunia pernah ramai tanpa pendapat kita. Matahari telah terbit dan tenggelam entah berapa kali ketika nama kita sama sekali belum dikenal.
Lalu Allah menghadirkan kita.
Ayat pertama Surah Al-Insan adalah pukulan halus bagi kesombongan. Manusia sering membanggakan apa yang dimilikinya, padahal keberadaannya sendiri adalah pemberian. Ia merasa besar karena sesuatu yang datang setelah dirinya diciptakan, sementara dirinya dahulu bahkan belum layak disebut.
Jika permulaan kita adalah ketiadaan, dari mana datangnya alasan untuk menyombongkan keberadaan?
Namun, ayat ini bukan hanya meruntuhkan keangkuhan. Ia juga menumbuhkan rasa syukur. Allah yang tidak membutuhkan kita justru berkenan menciptakan kita. Dia mengeluarkan manusia dari wilayah yang tidak disebut menuju kehidupan yang penuh kesempatan. Setiap tarikan napas menjadi kesempatan untuk mengenal-Nya. Setiap hari menjadi lembar tempat kita menuliskan jawaban atas ujian kehidupan.
Kita dahulu tidak disebut. Kini Allah menyebut kita di dalam firman-Nya: al-insān—manusia.
Dari Setetes Air Menuju Sebuah Ujian
Setelah mengingatkan bahwa manusia pernah tidak ada, Allah menjelaskan permulaan penciptaannya:
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya. Karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan: 2)
Manusia tidak diciptakan dari emas, cahaya, atau sesuatu yang pantas dibanggakan. Ia berasal dari nuthfah amsyāj: setetes cairan yang bercampur. Para mufasir menjelaskannya sebagai percampuran unsur dari laki-laki dan perempuan. Dari sesuatu yang kecil itu, Allah memindahkan manusia tahap demi tahap, dari satu keadaan menuju keadaan berikutnya, sampai ia lahir dalam bentuk yang sempurna.
Tidak ada seorang pun yang menentukan sendiri warna kulitnya, bentuk wajahnya, tempat kelahirannya, kedua orang tuanya, atau masa ketika ia dilahirkan. Bahkan untuk sekadar hadir ke dunia, manusia sepenuhnya bergantung pada kehendak dan pemeliharaan Allah.
Kemudian Allah menyebut tujuan penting dari penciptaan itu: nabtalīhi—Kami mengujinya.
Allah telah mengetahui siapa yang akan bersyukur dan siapa yang akan kufur. Ujian bukanlah cara Allah memperoleh pengetahuan yang sebelumnya tidak Dia miliki. Ujian menghadirkan pilihan manusia ke dalam kenyataan. Ia menampakkan apa yang dipilih seorang hamba, menegakkan hujah, dan menjadikan balasan diberikan atas amal yang benar-benar telah dilakukannya.
Karena itu, hidup bukan sekadar rentang waktu antara kelahiran dan kematian. Hidup adalah ruang ujian. Kelapangan adalah soal. Kesempitan adalah soal. Pujian, kehilangan, kekuasaan, kesendirian, sehat, sakit, perjumpaan, dan perpisahan; semuanya dapat menjadi lembar yang memperlihatkan siapa diri kita di hadapan Allah.
Menariknya, setelah menyebut ujian, Allah langsung menyebut pendengaran dan penglihatan. Keduanya bukan sekadar fasilitas untuk menikmati dunia. Keduanya adalah perangkat pertanggungjawaban.
Dengan pendengaran, manusia dapat menyimak kebenaran atau berpaling darinya. Dengan penglihatan, ia dapat membaca tanda-tanda Allah atau menutup mata. Dengan akal dan hati, ia dapat mengolah apa yang didengar dan dilihat, lalu menentukan sikap. Karunia-karunia itu membuat manusia mampu menerima petunjuk. Namun, karunia yang sama juga akan ditanyakan apabila sengaja digunakan untuk menentang-Nya.
Maka ujian manusia bukan ujian tanpa bekal. Allah menciptakan peserta ujian sekaligus memberinya perangkat untuk memahami soal.
Tentang Nama “Manusia”
Al-Qur’an menggunakan beberapa sebutan ketika berbicara tentang manusia. Di antaranya ialah al-insān, al-basyar, dan Banī Ādam. Ketiga sebutan ini tidak harus dipertentangkan. Masing-masing memberi sudut pandang yang memperkaya cara manusia memahami dirinya.
Sebutan al-basyar berkaitan dengan sisi lahiriah dan jasmani manusia, sesuatu yang tampak pada kulitnya. Para rasul pun disebut basyar, sebab mereka tetap manusia yang makan, berjalan, menikah, dan mengalami keadaan jasmani. Sebutan Banī Ādam mengingatkan manusia kepada asal-usul yang sama: kita semua adalah anak keturunan Adam. Di sana terdapat pelajaran tentang persaudaraan, kemuliaan, sekaligus kemungkinan manusia tergelincir sebagaimana leluhur mereka pernah menerima godaan.
Adapun kata al-insān dijelaskan oleh para ahli bahasa melalui beberapa pendekatan. Ada yang menghubungkannya dengan uns atau īnās: keakraban, kehidupan bersama, serta keadaan dapat dikenali atau dilihat. Manusia memang tidak sanggup menjalani hidup seorang diri. Ia tumbuh melalui hubungan, kasih sayang, pendidikan, dan pertolongan orang lain. Ada pula yang mengaitkannya dengan nisyān, lupa. Hubungan kebahasaan yang terakhir ini diperselisihkan, tetapi maknanya terasa dekat dengan pengalaman manusia: ia mudah lupa kepada asalnya, janjinya, Tuhannya, bahkan kepada dirinya sendiri.
Surah Al-Insan seolah mengobati kelupaan itu sejak ayat pertama. Wahai manusia yang mudah tenggelam dalam urusan hari ini, ingatlah: dahulu engkau tidak ada. Engkau diciptakan dari sesuatu yang lemah. Engkau sedang diuji. Dan perjalananmu tidak berhenti di dunia.
Jalan Itu Telah Ditunjukkan
Setelah Allah menciptakan manusia dan membekalinya dengan pendengaran serta penglihatan, Dia berfirman:
“Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (QS. Al-Insan: 3)
Jalan dalam ayat ini disebut sabīl. Dalam konteks ayat, ia adalah jalan yang telah Allah jelaskan kepada manusia: jalan yang mengantarkannya kepada keridaan dan surga-Nya. Karena itu, ayat ini tidak sedang menggambarkan manusia yang dilepaskan sendirian di sebuah persimpangan tanpa penunjuk arah. Sebaliknya, Allah menegaskan bahwa Dia telah menerangkan jalan tersebut.
Allah memberikan kemampuan untuk mendengar dan melihat. Dia menurunkan kitab suci. Dia mengutus para rasul untuk menjelaskan, mencontohkan, mengingatkan, dan memberi kabar gembira. Setelah para nabi, tugas menyampaikan kebenaran diteruskan oleh orang-orang berilmu. Tidak sempurna semua manusia yang menunjukkan jalan itu, tetapi jalan yang berasal dari Allah tetap sempurna.
Akal dan wahyu tidak harus diletakkan sebagai dua musuh. Akal ibarat mata, sedangkan wahyu ibarat cahaya. Mata yang sehat tidak dapat melihat di dalam kegelapan. Cahaya yang terang pun tidak memberi manfaat kepada orang yang sengaja memejamkan mata. Dengan akal, manusia memahami tanda. Dengan wahyu, ia mengetahui arah yang tidak dapat dijangkau akal seorang diri. Melalui Rasulullah ﷺ, ia melihat bagaimana petunjuk itu dijalani dalam kehidupan nyata.
Setelah jalan ditunjukkan, manusia mengambil sikap: immā syākiran wa immā kafūrā—ada yang bersyukur dan ada yang sangat kufur.
Di sinilah kebebasan manusia menemukan maknanya. Kebebasan dalam Islam bukan berarti hidup tanpa Tuhan, nilai, atau akibat. Ia adalah ikhtiar: kemampuan memilih di dalam ruang yang Allah berikan, kemudian memikul tanggung jawab atas pilihan itu. Manusia boleh memilih untuk menempuh jalan atau membelakanginya. Namun, ia tidak dapat memilih agar perbuatannya tidak diperhitungkan.
Setiap jalan mempunyai tujuan. Setiap pilihan membawa kesudahan.
Dua Sikap, Dua Kesudahan
Ayat ketiga menyebut dua sikap: syukur dan kufur. Ayat-ayat sesudahnya memperlihatkan dua kesudahan.
Allah lebih dahulu memberi peringatan tentang rantai, belenggu, dan api yang menyala bagi mereka yang mengingkari-Nya. Setelah itu, surah ini menggambarkan kenikmatan orang-orang baik—al-abrār—dengan uraian yang panjang dan menenteramkan. Mereka minum dari piala yang campurannya kafur. Mereka memperoleh naungan, buah-buahan yang didekatkan, bejana-bejana perak, minuman yang bercampur jahe, pakaian sutra, dan kerajaan yang besar. Di atas seluruh kenikmatan itu terdapat satu kalimat yang amat lembut:
“Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu diterima dan disyukuri.” (QS. Al-Insan: 22)
Manusia bersyukur kepada Allah dengan ketaatannya. Lalu Allah—Yang sebenarnya tidak membutuhkan amal manusia—menghargai dan menerima usaha hamba-Nya. Sedikit ketaatan yang dilakukan dalam umur yang terbatas dibalas dengan kenikmatan yang tidak berakhir.
Betapa berbeda antara syukur Allah kepada hamba dan syukur hamba kepada Allah. Syukur kita tidak menambah kerajaan-Nya sedikit pun. Namun, penerimaan dan penghargaan-Nya mengubah seluruh nasib kita.
Mungkin karena itulah gambaran surga dalam Surah Al-Insan terasa begitu dekat. Ia bukan hanya pemandangan indah yang dipamerkan dari kejauhan. Ia seperti sambutan bagi seorang musafir yang telah berjalan jauh dan akhirnya tiba di rumah.
Namun, siapakah para musafir yang disambut itu?
Orang Baik Tidak Hanya Berbicara tentang Kebaikan
Sebelum menggambarkan surga, Allah memperkenalkan sifat al-abrār:
“Mereka memenuhi nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan wajah Allah; kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan terima kasih darimu.” (QS. Al-Insan: 7–9)
Orang-orang baik dalam surah ini bukan sekadar mereka yang pandai menjelaskan kebaikan. Kebaikan mereka mempunyai bentuk.
Mereka menepati janji kepada Allah. Mereka takut kepada hari yang berat. Mereka memberi makanan yang justru mereka sukai atau perlukan kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan. Kebaikan mereka melampaui batas kelompok; bahkan tawanan—orang yang berada dalam kekuasaan mereka—tetap memperoleh makanan dan perlakuan manusiawi.
Lebih dalam lagi, mereka menjaga niat. Mereka tidak menjadikan kebaikan sebagai transaksi sosial. Tidak menunggu balasan. Tidak menagih ucapan terima kasih. Tidak marah ketika orang yang ditolong tidak menceritakan jasa mereka kepada orang lain.
Mereka memberi karena Allah melihat.
Di sinilah syukur menemukan bentuk sosialnya. Syukur bukan hanya ucapan alhamdulillāh setelah menerima nikmat. Syukur adalah menggunakan nikmat sesuai kehendak Pemberinya. Rezeki berubah menjadi makanan bagi yang lapar. Kekuatan berubah menjadi perlindungan bagi yang lemah. Ilmu berubah menjadi petunjuk bagi yang belum memahami. Waktu berubah menjadi pelayanan. Jabatan berubah menjadi keadilan.
Surga yang indah pada ayat 5–22 tidak dipisahkan dari penderitaan manusia yang mereka ringankan pada ayat 8. Orang yang berharap minuman surga belajar memberi minum di bumi. Orang yang berharap sambutan Allah tidak sibuk menuntut penghormatan dari manusia.
Surga Itu Dikelilingi Kesabaran
Setelah menyebut ketakutan dan keikhlasan mereka, Allah berfirman:
“Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan. Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka berupa surga dan pakaian sutra.” (QS. Al-Insan: 11–12)
Surga itu diberikan bimā shabarū—karena kesabaran mereka.
Mereka bersabar untuk taat ketika kemalasan mengajak berhenti. Bersabar meninggalkan maksiat ketika keinginan terasa kuat. Bersabar menghadapi ketetapan Allah ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan. Bersabar memberi ketika diri sendiri menyukai apa yang diberikan. Bersabar menjaga niat ketika pujian datang. Bersabar melanjutkan kebaikan ketika tidak ada manusia yang berterima kasih.
Pada bagian akhir surah, perintah sabar kembali disebutkan:
“Maka bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau mengikuti orang yang berdosa dan orang yang kufur di antara mereka.” (QS. Al-Insan: 24)
Ayat ini mula-mula ditujukan kepada Rasulullah ﷺ. Beliau diperintahkan tetap teguh membawa wahyu, tidak tunduk kepada tekanan orang-orang yang hendak membelokkan dakwahnya. Namun, setiap orang yang berusaha berjalan menuju Allah memerlukan bekal yang sama: kesabaran untuk tetap berada di jalan ketika banyak suara mengajaknya keluar.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang berusaha menjaga kehormatan dirinya, Allah akan menjaganya; siapa yang merasa cukup, Allah akan mencukupinya; dan siapa yang berusaha bersabar, Allah akan menjadikannya sabar. Tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran. (HR. Al-Bukhari no. 1469)
Sabar bukan selalu sifat yang hadir dalam bentuk sempurna sejak awal. Sabar diusahakan. Dilatih. Dimohonkan. Seseorang boleh merasa lemah, tetapi ia tidak berhenti mendatangi sumber kekuatan. Ketika ia berusaha bersabar karena Allah, Allah menumbuhkan kesabaran itu di dalam dirinya.
Bekal untuk Menempuh Jalan
Allah tidak hanya memerintahkan manusia bersabar. Pada ayat 23–26, Dia menunjukkan bekal untuk menjaga keteguhan:
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an kepadamu secara berangsur-angsur. Maka bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu … Sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang. Dan pada sebagian malam, bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.”
Ada Al-Qur’an yang dibaca dan direnungi. Ada zikir pada pagi dan petang. Ada sujud serta tasbih pada malam hari. Ada kesabaran yang menjaga manusia agar tidak menukar petunjuk dengan tekanan sesaat.
Inilah perbekalan ruhani seorang pejalan. Ia tidak cukup mengetahui tujuan. Ia harus terus memperbarui hubungan dengan Pemilik jalan.
Al-Qur’an menjaga cara pandangnya. Zikir menjaga kesadarannya. Sujud mematahkan kesombongannya. Ibadah malam memberinya ruang untuk jujur ketika dunia terlelap. Kesabaran menjaga langkahnya tetap mengarah kepada Allah.
Manusia sering ingin istiqamah tanpa merawat sumber keistiqamahan. Ia ingin hati yang tenang tanpa zikir. Menginginkan keputusan yang jernih tanpa mendekati Al-Qur’an. Mengharapkan kekuatan menghadapi godaan, tetapi tidak pernah bersujud ketika sunyi.
Padahal jalan yang panjang memerlukan bekal yang terus diperbarui.
Penyakit Manusia: Mencintai yang Segera
Setelah menyebut Al-Qur’an, zikir, sujud, dan kesabaran, Allah menyingkap salah satu sebab manusia meninggalkan jalan:
“Sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia yang segera dan meninggalkan di belakang mereka hari yang berat.” (QS. Al-Insan: 27)
Dunia disebut al-‘ājilah: sesuatu yang segera. Ia dapat dilihat sekarang, dirasakan sekarang, dinikmati sekarang. Adapun akhirat terasa jauh bagi mata yang hanya memandang hari ini.
Manusia ingin hasil yang cepat. Pujian yang segera. Keuntungan yang langsung masuk. Jawaban yang tidak perlu ditunggu. Karena itu, ia mudah menukar sesuatu yang kekal dengan kenikmatan yang sebentar. Ia memilih yang cepat, bukan selalu yang tepat.
Kemaksiatan sering memikat bukan karena manusia tidak tahu akibatnya, tetapi karena kesenangannya hadir lebih dahulu daripada hukumannya. Ketaatan terasa berat bukan karena tidak membawa kebahagiaan, tetapi karena sebagian buahnya harus ditunggu.
Surah Al-Insan memperbaiki ukuran waktu kita. Umur dunia yang terasa panjang sebenarnya hanya ruas kecil dalam perjalanan menuju keabadian. Hari akhir yang kita anggap jauh justru terus mendekat. Manusia yang cerdas bukanlah yang hanya berhasil mengambil manfaat tercepat, melainkan yang mampu menilai kesudahan terjauh.
Al-abrār sanggup memberi makanan yang mereka cintai karena mereka melihat hari yang belum dilihat kebanyakan manusia. Mereka melepaskan kenikmatan yang segera demi keselamatan pada “hari yang berat”. Mereka tidak sedang kehilangan. Mereka sedang menyimpan.
Antara Kehendak Manusia dan Kehendak Allah
Menjelang penutup surah, Allah berfirman:
“Sesungguhnya ini adalah peringatan. Maka siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan menuju Tuhannya.” (QS. Al-Insan: 29)
Manusia mempunyai kehendak. Ia diajak memilih jalan menuju Tuhan. Perintah, larangan, pahala, dan hukuman menunjukkan bahwa pilihan manusia nyata dan memiliki konsekuensi.
Namun ayat berikutnya segera menjaga manusia dari kesombongan baru:
“Tetapi kamu tidak mampu menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Insan: 30)
Kehendak manusia nyata, tetapi tidak berdiri sendiri di luar kerajaan Allah. Kita berjalan, tetapi Allah yang menciptakan kaki, kekuatan, kesempatan, dan petunjuk. Kita memilih, tetapi bahkan kemampuan untuk memilih merupakan karunia-Nya. Kita mengetuk pintu, tetapi Allah yang membukanya.
Pemahaman ini melahirkan keseimbangan. Kita tidak boleh menjadikan takdir sebagai alasan untuk bermalas-malasan, sebab Allah menyuruh manusia mengambil jalan. Kita juga tidak boleh menyombongkan ketaatan, sebab kemampuan untuk menempuh jalan itu terjadi dengan pertolongan-Nya.
Seorang mukmin berikhtiar sekuat tenaga, lalu memohon agar Allah tidak menyerahkannya kepada dirinya sendiri. Ia beramal, tetapi tidak merasa selamat karena amal. Ia berharap kepada rahmat Allah, tetapi tidak menggunakan harapan untuk meninggalkan ketaatan.
Pada ayat terakhir, Allah menyebut bahwa Dia memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya, sedangkan bagi orang-orang zalim Dia menyediakan azab yang pedih. Maka tujuan akhir perjalanan bukan sekadar sampai. Tujuannya adalah masuk ke dalam rahmat Allah.
Ketika Manusia Lupa kepada Dirinya
Surah Al-Insan menjawab pertanyaan-pertanyaan paling mendasar dalam kehidupan. Siapa yang menciptakan kita? Dari apa kita diciptakan? Mengapa kita hidup? Jalan apa yang harus ditempuh? Dan ke mana seluruh perjalanan ini berakhir?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dapat dijawab hanya dengan melihat penampilan luar manusia. Kita memerlukan akal yang mau berpikir, wahyu yang menerangi, dan teladan Rasulullah ﷺ yang menunjukkan cara berjalan.
Jika manusia melupakan Allah, ia akhirnya kehilangan jawaban tentang dirinya sendiri. Allah mengingatkan:
“Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)
Lupa diri bukan hanya berarti tidak mengetahui nama atau identitas. Seseorang dapat memiliki biodata yang lengkap, tetapi tidak mengerti untuk apa ia hidup. Ia mengetahui pekerjaannya, tetapi tidak mengetahui tugas kehambaannya. Ia memahami cara merawat tubuh, tetapi tidak mengetahui arah jiwanya. Ia pandai merencanakan masa depan di dunia, tetapi tidak mempersiapkan masa depan setelah kematian.
Surah Al-Insan memulihkan ingatan itu.
Engkau dahulu bukan sesuatu yang disebut. Allah menciptakanmu dari setetes cairan. Dia memberimu pendengaran dan penglihatan. Dia menunjukkan jalan. Kini engkau sedang memilih antara syukur dan kufur. Di ujung jalan terdapat hari yang berat, tetapi juga terdapat surga, pakaian sutra, minuman yang menyejukkan, dan sambutan bahwa usahamu telah diterima.
Maka jangan jual perjalanan yang panjang untuk kenikmatan yang terlalu segera.
Penutup: Membaca Diri pada Setiap Jumat
Semula perhatian saya hanya tertuju pada sebuah kalimat pendek di kolom motivasi mushaf seorang santri. Namun, kalimat itu membawa saya kepada hadis, lalu membawa saya masuk lebih jauh ke dalam Surah Al-Insan.
Kini saya memahami bahwa surah ini bukan sekadar menjelaskan manusia. Ia seperti cermin yang diletakkan di hadapan manusia setiap pekan. Pada fajar Jumat, kita diajak melihat kembali wajah batin kita.
Apakah kita masih ingat bahwa dahulu kita tidak ada?
Apakah pendengaran dan penglihatan telah digunakan untuk menerima petunjuk?
Apakah nikmat telah melahirkan syukur yang nyata?
Apakah kita memberi tanpa menuntut balasan dan terima kasih?
Apakah kita sedang menempuh jalan menuju Allah, atau justru terpikat oleh sesuatu yang segera?
Barangkali manusia memang perlu mendengar jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu berulang kali. Kelupaan tidak selalu disembuhkan oleh satu nasihat. Karena itu Al-Qur’an dibaca kembali, zikir diulang pagi dan petang, sujud dilakukan malam demi malam, dan Surah Al-Insan kembali terdengar pada fajar Jumat.
Kita tidak pernah menjadi kuat tanpa pertolongan Allah. Bahkan keinginan untuk pulang kepada-Nya tidak tumbuh kecuali dengan kehendak-Nya. Namun, Allah telah menurunkan peringatan. Dia telah menunjukkan jalan. Tugas kita adalah membuka mata, menyimak dengan jujur, lalu melangkah.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bersyukur; yang menepati janji, mengasihi sesama, menjaga keikhlasan, dan bersabar hingga akhir. Semoga Dia tidak menjadikan kita orang yang lupa kepada-Nya sehingga kehilangan diri sendiri. Dan semoga pada akhir perjalanan, Dia memasukkan kita ke dalam rahmat-Nya serta menyambut usaha kita dengan penerimaan.
“Tetapi kamu tidak mampu menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Insan: 30)
Wallāhul-musta‘ān.
Rujukan Utama
Al-Qur’an, terutama Surah Al-Insan ayat 1–31 dan Surah Al-Hasyr ayat 19.
Sahih Al-Bukhari no. 891, tentang bacaan Surah As-Sajdah dan Al-Insan dalam salat Subuh hari Jumat.
Sahih Muslim no. 854b, tentang beberapa peristiwa penting yang berkaitan dengan hari Jumat.
Ibn Al-Qayyim, Zād al-Ma‘ād, pembahasan petunjuk Nabi ﷺ pada hari Jumat dan hikmah pembacaan kedua surah tersebut.
Tafsir Ibn Katsir, Surah Al-Insan ayat 1 dan ayat 2.
Tafsir Ath-Thabari, Surah Al-Insan ayat 3.
Tafsir Ibn Katsir, Surah Al-Insan ayat 24, ayat 27, dan ayat 30.
Sahih Al-Bukhari no. 1469, tentang memelihara kehormatan diri, merasa cukup, dan melatih kesabaran.
Al-Raghib Al-Ashfahani, Al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān, pembahasan kata al-insān.
Ibn Manzhur, Lisān al-‘Arab, pembahasan akar kata yang berkaitan dengan al-insān.
