Mimbar Cahaya #1 : Mencintai Karena Allah

Pekan lalu, saya menghadiri kajian bulanan yang saat ini membahas kitab Jati Diri Wanita Muslimah karya Syaikh Muhammad Ali al-Hasyimi, dalam versi terjemahan lain berjudul Kepribadian Wanita Muslimah. Pembahasan kami telah sampai pada bab “Wanita Muslimah Bersama Saudara dan Temannya”.

Dalam bab tersebut, Syaikh Muhammad Ali al-Hasyimi mengutip sebuah hadis qudsi tentang mimbar cahaya. Dari Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

الْمُتَحَابُّونَ فِي جَلَالِي لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمُ النَّبِيُّونَ وَالشُّهَدَاءُ

“Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku akan memperoleh mimbar-mimbar dari cahaya. Para nabi dan syuhada ber-ghibthah kepada mereka.”
(HR. al-Tirmidzi, hadis hasan sahih)

Ada satu kata yang menarik dalam hadis tersebut, yaitu yaghbiṭuhum. Dalam terjemahan sederhana, kata ini terkadang diterjemahkan sebagai “merasa iri”. Namun, iri yang dimaksud bukanlah hasad, keinginan agar nikmat orang lain hilang, melainkan ghibthah: kekaguman terhadap karunia istimewa yang Allah berikan kepada mereka, disertai keinginan memperoleh kemuliaan serupa.

Bukan berarti kedudukan orang-orang tersebut secara keseluruhan lebih tinggi daripada para nabi dan syuhada. Hadis itu sedang menunjukkan betapa istimewanya kemuliaan yang Allah berikan kepada orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Nya.

Namun, jalan menuju mimbar cahaya tentu tidak sesederhana, “Aku mempunyai banyak teman. Kami sama-sama muslim. Berarti hubungan kami lillāh.”

Orang-orang yang memperoleh mimbar cahaya bukan sekadar sekelompok muslim yang kebetulan berkumpul. Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan Allah. Karena itu, yang perlu diperiksa bukan hanya dengan siapa kita bergaul, tetapi juga mengapa kita mencintai mereka.

Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn bahkan menguraikan bagaimana sebuah hubungan dapat disebut ḥubb fillāh, cinta karena Allah.

Sebelum menjelaskan tingkatan cinta, Imam al-Ghazali membedakan pergaulan yang terjadi secara kebetulan dengan persahabatan yang dipilih secara sadar. Ada orang-orang yang dipertemukan karena bertetangga, berada di satu sekolah, atau melakukan perjalanan bersama. Pertemuan itu terjadi karena keadaan.

Ada pula orang-orang yang secara sadar kita pilih untuk didekati, ditemani, dan dijadikan saudara. Pada hubungan yang dipilih inilah niat menjadi sangat penting. Imam al-Ghazali kemudian mengklasifikasikan alasan manusia mencintai manusia lain ke dalam empat tingkatan.

Tingkatan pertama: mencintai seseorang karena dirinya

Pada tingkatan pertama, seseorang dicintai karena keberadaannya menyenangkan bagi kita. Mungkin ia membuat kita nyaman, mudah diajak berbicara, atau mempunyai akhlak yang baik.

Imam al-Ghazali menyebutkan beberapa hal yang dapat melahirkan cinta semacam ini: keindahan lahiriah, kecerdasan, keluasan ilmu, akhlak yang menyenangkan, kesesuaian tabiat, serta kecocokan jiwa yang terkadang sulit dijelaskan.

Ada orang yang baru beberapa kali kita temui, tetapi rasanya mudah sekali menjadi akrab dengannya. Ada pula orang yang telah lama kita kenal, tetapi hubungan dengannya tidak pernah benar-benar dekat.

Cinta semacam ini adalah cinta alamiah. Ia tidak serta-merta tercela. Selama tidak mengantarkan kepada sesuatu yang dilarang, kedudukannya dapat menjadi mubah. Namun, ia belum otomatis disebut ḥubb fillāh, sebab seseorang dapat merasakan kenyamanan, kekaguman, dan kecocokan semacam ini tanpa didasari keimanan kepada Allah.

“Aku mencintainya karena ia menyenangkan bagiku,” adalah cinta yang manusiawi. Namun, belum tentu itulah cinta karena Allah.

Tingkatan kedua: mencintainya sebagai sarana memperoleh dunia

Pada tingkatan kedua, seseorang dicintai karena melalui dirinya kita dapat memperoleh sesuatu yang bersifat duniawi: harta, kedudukan, jaringan, pelayanan, popularitas, rasa aman, kenyamanan, atau manfaat pribadi lainnya.

Dalam hubungan semacam ini, orang yang dicintai sebenarnya bukanlah tujuan. Ia menjadi jalan untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan.

Status cinta ini mengikuti tujuan yang hendak dicapai. Jika manfaat yang dicari adalah sesuatu yang halal, cintanya dapat menjadi mubah. Jika tujuannya tercela, cintanya pun menjadi tercela. Namun, keduanya belum termasuk ḥubb fillāh.

Bahkan bertemu melalui aktivitas agama tidak otomatis membuat sebuah hubungan menjadi hubungan karena Allah.

Imam al-Ghazali memberi contoh seorang murid yang mencintai gurunya karena sang guru memberinya ilmu. Sepintas, hubungan itu terlihat sangat dekat dengan agama. Namun, apabila ilmu tersebut dicari hanya untuk memperoleh kedudukan, harta, gelar, atau penerimaan manusia, tujuan akhirnya tetaplah dunia. Guru menjadi jalan menuju ilmu, sementara ilmu menjadi jalan menuju kedudukan. Karena itu, hubungan tersebut belum dapat disebut fillāh.

Maka, yang menentukan bukan hanya tempat kita bertemu atau kegiatan yang kita lakukan bersama, melainkan tujuan yang berada di ujung hubungan tersebut.

Tingkatan ketiga: mencintainya sebagai jalan menuju akhirat

Pada tingkatan ketiga, seseorang dicintai karena melalui dirinya kita memperoleh ilmu, memperbaiki amal, dan semakin mendekat kepada Allah.

Imam al-Ghazali memasukkan cinta semacam ini ke dalam ḥubb fillāh.

Kita mencintai guru karena melalui dirinya kita memahami agama dan memperbaiki ibadah. Kita mencintai teman belajar karena ia menjaga semangat kita dalam menuntut ilmu. Kita mencintai murid karena mengajarinya menjadi jalan untuk menyebarkan kebaikan. Kita mencintai sahabat yang mengingatkan kita kepada shalat dan akhirat.

Kita juga dapat mencintai seseorang yang membantu menyelesaikan pekerjaan kita sehingga kita mempunyai lebih banyak waktu untuk beribadah. Kita mencintai pasangan karena bersamanya agama dan kehormatan diri terjaga. Kita mencintai teman seperjuangan karena bersamanya kebaikan yang sulit dilakukan sendirian dapat diwujudkan.

Pada tingkatan ini, masih terdapat “manfaat” yang kita peroleh dari orang yang dicintai. Namun, manfaat itu tidak berhenti pada dunia. Ia menjadi jalan menuju keridaan Allah dan keselamatan akhirat. Karena itulah Imam al-Ghazali memasukkannya ke dalam golongan cinta karena Allah.

Perbedaan antara tingkatan kedua dan ketiga terkadang sangat tipis. Objeknya dapat sama-sama seorang guru, sahabat, pasangan, atau teman seperjuangan. Kegiatan yang dilakukan pun dapat sama-sama berupa belajar, mengajar, atau berdakwah. Namun, yang satu berujung pada kedudukan di hadapan manusia, sedangkan yang lain berujung pada keridaan Allah.

Tingkatan keempat: mencintainya karena Allah

Pada tingkatan keempat, seseorang dicintai bukan karena kita memperoleh ilmu, pelayanan, bantuan, atau manfaat tertentu darinya. Ia dicintai karena dirinya beriman dan taat kepada Allah; karena dalam dirinya terdapat sifat-sifat yang diridai Allah.

Inilah tingkatan tertinggi ḥubb fillāh.

Kita mencintainya karena ia mencintai Allah. Kita mencintainya karena ia beribadah kepada Allah, menjaga adab syariat, dan berusaha menempuh jalan yang Allah ridai. Keberadaan iman, ketaatan, dan kebaikan dalam dirinya membuat kita mencintainya, meskipun kita tidak mendapatkan manfaat apa pun darinya.

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa ketika cinta kepada Allah semakin kuat, cinta itu akan meluas kepada siapa pun yang mempunyai hubungan dengan apa yang dicintai Allah.

Seseorang yang sangat mencintai manusia lain biasanya juga akan mencintai orang-orang yang dicintai oleh kekasihnya. Demikian pula orang yang mencintai Allah. Ia akan mencintai hamba-hamba yang taat kepada-Nya, sifat-sifat yang diridai-Nya, serta amal-amal yang mendekatkan manusia kepada-Nya.

Karena itulah kita dapat mencintai para nabi, sahabat, ulama, dan orang-orang saleh yang telah wafat, meskipun kita tidak pernah bertemu dengan mereka dan tidak mungkin memperoleh manfaat duniawi secara langsung dari mereka. Kita mencintai mereka karena kita mencintai keimanan, ilmu, ibadah, dan perjuangan yang Allah cintai dalam diri mereka.

Imam al-Ghazali memberikan satu batasan yang sangat tajam:

كُلُّ حُبٍّ لَوْلَا الْإِيمَانُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ لَمْ يُتَصَوَّرْ وُجُودُهُ، فَهُوَ حُبٌّ فِي اللهِ

“Setiap cinta yang tidak mungkin ada seandainya tidak ada iman kepada Allah dan hari akhir, maka cinta itu adalah cinta karena Allah.”

Barangkali, inilah pertanyaan yang dapat kita ajukan kepada diri sendiri: seandainya tidak ada iman kepada Allah dan hari akhir, apakah alasan saya mencintainya masih tetap ada?

Jika kita mencintainya karena ia menyenangkan, itulah cinta alamiah. Jika kita mencintainya karena manfaat yang diberikannya, itulah cinta karena dunia. Jika kita mencintainya karena bersamanya kita semakin dekat kepada Allah, itulah cinta yang menjadi jalan menuju akhirat. Sedangkan jika kita mencintainya meskipun tidak memperoleh apa pun darinya, semata-mata karena iman dan ketaatan yang Allah cintai dalam dirinya, itulah tingkatan tertinggi ḥubb fillāh.

Namun, Imam al-Ghazali juga memahami bahwa cinta manusia tidak selalu berdiri di atas satu alasan. Dalam satu hubungan dapat berkumpul cinta alamiah, manfaat duniawi, dan tujuan akhirat sekaligus. Kita dapat mencintai seorang sahabat karena ia menyenangkan, suka menolong, sekaligus senantiasa mengingatkan kita kepada Allah.

Karena itu, ḥubb fillāh tidak selalu berarti tidak adanya unsur duniawi sama sekali. Yang perlu diperiksa adalah seberapa besar iman kepada Allah dan hari akhir menjadi alasan di balik cinta tersebut.

Imam al-Ghazali mengatakan bahwa kadarnya dapat diuji. Apabila manfaat keagamaan dari orang tersebut hilang, lalu cinta kita kepadanya berkurang, maka kadar berkurangnya cinta itulah bagian yang sebelumnya berkaitan dengan Allah. Dengan demikian, satu hubungan dapat mengandung cinta karena dunia sekaligus cinta karena Allah. Pahalanya mengikuti kadar niat fillāh yang terdapat di dalamnya.

Cinta karena Allah juga berarti kita mencintai iman dan kebaikan yang ada dalam diri seseorang, tetapi tidak membenarkan kesalahannya. Kita menjaga kehormatannya, tetapi tetap menasihatinya. Kita tidak meninggalkannya saat ia tergelincir.

Jika cinta itu sungguh karena Allah, kita akan mencintai apa yang Allah cintai dalam dirinya dan membantunya meninggalkan apa yang tidak Allah sukai.

Maka, perjalanan menuju mimbar cahaya bukan dimulai dari berapa banyak teman yang kita punya, berapa lama kita telah bersama, atau seberapa sering kita mengatakan, “Aku mencintaimu karena Allah.”

Perjalanannya dimulai dari keberanian untuk memeriksa hati:

Apakah aku mencintainya karena ia selalu membantuku? Karena bersamanya aku mendapatkan tempat dan kedudukan? Ataukah karena bersamanya aku semakin mengenal Allah dan melihat sesuatu yang Allah cintai dalam dirinya?

Mimbar cahaya memang dijanjikan di akhirat. Namun, jalan menuju ke sana dimulai dari sesuatu yang sangat sulit: meluruskan alasan mengapa kita saling mencintai.

Bukan sekadar bersama.

Bukan sekadar sesama muslim.

Tetapi saling mencintai karena keagungan Allah.

Tinggalkan Balasan