Mimbar Cahaya #2 : Melahirkan Generasi Hannan

Dalam buku Jati Diri Wanita Muslimah, terdapat satu pembahasan menarik mengenai jalan menuju mimbar cahaya: menjaga lisan.

Dalam Surah Al-Hujurat ayat 11, Allah memberikan peringatan yang secara khusus juga ditujukan kepada para perempuan:

وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ

“Dan janganlah sekumpulan perempuan merendahkan sekumpulan perempuan yang lain. Boleh jadi perempuan yang direndahkan itu lebih baik daripada mereka.”

Peringatan tersebut kemudian disambung pada ayat berikutnya dengan larangan berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan orang lain, dan menggunjing.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.”
—QS Al-Hujurat: 12

Ghibah bukan sekadar pelanggaran lisan. Ia juga merupakan pengkhianatan terhadap cinta karena Allah. Sebab, bagaimana mungkin seseorang mengharapkan mimbar cahaya karena mencintai saudaranya karena Allah, sementara lisannya justru menjadikan kehormatan saudaranya sebagai bahan percakapan?

Bagaimana mungkin kita mengaku mencintai seseorang karena Allah, tetapi merasa senang ketika mengetahui aibnya, tertarik menyelidiki kekurangannya, kemudian menceritakannya kepada orang lain?

Cinta karena Allah semestinya membuat kehormatan saudara kita aman di hadapan kita, bukan hanya ketika ia hadir, tetapi juga ketika ia tidak berada di sana untuk membela dirinya sendiri.

Ada ayat lain yang menarik untuk direnungkan dalam kaitannya dengan lisan dan pendidikan sebuah generasi. Ketika Allah mengabulkan doa Nabi Zakaria ‘alaihissalam, Allah tidak hanya menyebutkan pemberian seorang anak, tetapi juga menyebutkan perbaikan terhadap istrinya:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Maka Kami mengabulkan doanya, menganugerahkan Yahya kepadanya, dan memperbaiki istrinya untuknya. Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan, berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.”
—QS Al-Anbiya: 90

Dalam Tafsir Ibn Katsir, penafsiran yang dinilai paling sesuai dengan konteks ayat ialah bahwa Allah memperbaiki keadaan fisik istri Zakaria: sebelumnya ia mandul, kemudian Allah menjadikannya dapat mengandung dan melahirkan.

Namun, Ibn Katsir juga menukil penafsiran lain dari ‘Atha’ bahwa sebelumnya terdapat ṭūl fī lisānihā, sesuatu yang buruk pada lisannya, lalu Allah memperbaikinya. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ada sesuatu pada akhlaknya yang kemudian Allah perbaiki. Al-Tabari memandang bahwa keumuman lafaz ayat dapat mencakup keduanya: Allah memperbaiki kesuburan sekaligus akhlaknya.

Keterangan ini tidak harus kita jadikan rumus sebab-akibat yang mutlak, seolah-olah kesalehan seorang anak sepenuhnya ditentukan oleh lisan ibunya. Yahya tetaplah anugerah Allah. Namun, darinya kita dapat mengambil sebuah renungan pendidikan: sebelum menyebutkan lahirnya sebuah generasi yang istimewa, Al-Qur’an juga mengabadikan proses perbaikan pada diri orang tuanya.

Allah memperbaiki tempat tumbuhnya, lalu menghadirkan Yahya di dalamnya.

Yahya bukan hanya seorang anak yang dinanti begitu lama. Sejak kecil, ia telah dikaruniai hikmah, kelembutan, kesucian jiwa, dan ketakwaan:

يَا يَحْيَىٰ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ ۖ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا ۝ وَحَنَانًا مِّن لَّدُنَّا وَزَكَاةً ۖ وَكَانَ تَقِيًّا ۝ وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُن جَبَّارًا عَصِيًّا

“Wahai Yahya, peganglah Kitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami menganugerahkan kepadanya hikmah ketika ia masih kanak-kanak, serta kasih sayang yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian. Dia adalah seorang yang bertakwa, sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukan seorang yang sombong lagi durhaka.”
—QS Maryam: 12–14

Al-Qur’an menggunakan kata ḥanānan, bukan sekadar raḥmah. Ibn Katsir menjelaskan ḥanān sebagai:

الْمَحَبَّةُ فِي شَفَقَةٍ وَمَيْلٍ

“Cinta yang disertai belas kasih dan kecenderungan hati.”

Artinya, hati Yahya tidak hanya mengetahui kesusahan orang lain. Hatinya condong mendekat, tersentuh, lalu terdorong untuk mengasihi. Kasihnya bukan perasaan pasif, tetapi kasih yang melahirkan perhatian dan perbuatan.

Ibn ‘Asyur memaknai ḥanān sebagai syafaqah: belas kasih yang lembut. Ungkapan مِنْ لَدُنَّا, “dari sisi Kami”, mengisyaratkan bahwa kelembutan yang dianugerahkan kepada Yahya merupakan kelembutan istimewa yang melampaui kebiasaan manusia pada umumnya.

Menariknya, Yahya yang dikaruniai kelembutan luar biasa itu juga menerima perintah:

يَا يَحْيَىٰ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ

“Wahai Yahya, peganglah Kitab itu dengan kuat.”

Maka, dalam diri Yahya bertemu dua sifat yang sering kali dipisahkan oleh manusia: keteguhan dalam memegang prinsip dan kelembutan dalam memperlakukan manusia.

Ia tidak menjadi kasar karena memegang kebenaran. Namun, ia juga tidak mengorbankan kebenaran atas nama kelembutan.

Bukankah pada zaman kita ini sulit menemukan orang yang mampu menghimpun keduanya?

Ada orang yang teguh memegang prinsip, tetapi lisannya kasar, mudah merendahkan, dan gemar melukai. Ada pula orang yang terlihat lembut, tetapi kehilangan keberanian untuk berdiri bersama kebenaran. Yahya mengajarkan bahwa kekuatan tidak harus melahirkan kekasaran dan kelembutan tidak harus berakhir menjadi kelemahan.

Hannan adalah seseorang yang dikaruniai hati yang sangat lembut dan penuh kasih; yang mudah tersentuh oleh kesusahan orang lain, lalu kasih itu menggerakkannya untuk mendekat, menjaga, dan berbuat baik. Kelembutannya tidak dibuat-buat, tetapi mengalir dari jiwa yang suci dan dekat dengan Allah. Ia lembut kepada manusia, tetapi tetap teguh memegang kebenaran.

Lalu, dari manakah generasi seperti itu ditumbuhkan?

Ilmu perkembangan janin menunjukkan bahwa pendengaran telah berkembang dan mulai berfungsi selama masa kehamilan. Memasuki tahap tertentu, janin dapat merespons suara, dan suara ibu menjadi salah satu suara yang paling akrab baginya. Tentu hal ini tidak berarti janin telah memahami isi setiap perkataan sebagaimana seorang anak memahaminya. Namun, sejak sebelum lahir, ia telah berada di dalam lingkungan suara ibunya. Setelah lahir, kata-kata yang berulang kali didengarnya pun menjadi bagian dari suasana emosional tempat ia bertumbuh.

Anak belajar kelembutan bukan hanya dari nasihat tentang kasih sayang. Ia mempelajarinya dari cara orang tuanya berbicara tentang orang lain; dari apakah sebuah rumah menjadi tempat kehormatan manusia dijaga atau justru tempat aib mereka dibicarakan; dari apakah kesalahan disikapi dengan bimbingan atau dengan penghinaan.

Tentu tanggung jawab ini tidak hanya berada di pundak ibu. Ayah, keluarga, guru, dan lingkungan memiliki bagian dalam membentuk suasana tempat seorang anak tumbuh. Namun, bagi seorang ibu, lisannya mempunyai kedekatan yang sangat istimewa dengan anaknya. Suaranya dapat menjadi suara yang menenangkan, mengenalkan doa, membiasakan kebaikan, dan mengajarkan bagaimana menghormati manusia.

Karena itu, apabila kita menginginkan lahirnya generasi hannan, perjalanannya tidak dimulai ketika anak telah mampu membaca kitab-kitab pendidikan. Perjalanan itu dimulai dari orang-orang dewasa di sekelilingnya yang bersedia memperbaiki diri.

Dimulai dari prasangka yang dihentikan sebelum berubah menjadi ucapan.

Dimulai dari aib yang tetap disimpan meskipun menarik untuk diceritakan.

Dimulai dari kemarahan yang diolah sebelum berubah menjadi kata-kata yang melukai.

Dimulai dari rumah yang dipenuhi doa, ucapan baik, penghormatan, dan kasih sayang.

Sebab generasi yang lembut tidak cukup hanya diperintah agar menjadi lembut. Mereka perlu tumbuh di tengah kelembutan.

Dan mungkin, salah satu ikhtiar paling awal untuk melahirkan generasi yang kuat memegang Kitab sekaligus penuh kasih kepada manusia adalah memperbaiki lisan orang-orang yang akan mendidiknya, terutama lisan ibunya.

Tinggalkan Balasan