Dulu, ketika masih kuliah di Jakarta, saya dan teman-teman mengambil mata kuliah wajib yakni Pancasila.
Tentu saja, sebagai warga negara yang taat kepada konstitusi, setia kepada lambang negara, dan tidak ingin mengulang mata kuliah hanya gara-gara nilai yang kurang memuaskan, kami masuk kelas itu dengan penuh kesadaran.
Kabarnya, dosen yang seharusnya mengajar kami sedang melaksanakan ibadah haji. Karena itu, selama dua bulan pertama perkuliahan, kelas akan diampu oleh dosen pengganti.
Kami tidak mempermasalahkannya. Bagi mahasiswa, siapa pun dosennya tidak terlalu penting. Yang penting masuk kelas, mengisi daftar hadir, mendapat nilai, lalu pulang dengan selamat.
Hari itu kami menunggu hampir tiga puluh menit.
Setelah sebagian mahasiswa mulai gelisah dan sebagian lainnya mulai menerima kemungkinan bahwa perkuliahan akan kosong, datanglah seorang dosen pria. Beliau masuk, meletakkan barang-barangnya, lalu berdiri di hadapan kami.
Kami pun bersiap belajar Pancasila.
Bayangan saya, beliau akan menjelaskan sejarah perumusan Pancasila. Mungkin juga membahas makna lima silanya, lambang Garuda, atau alasan banyak orang begitu bersemangat mengatakan “NKRI harga mati”, padahal ketika diminta mengamalkan Pancasila dengan sungguh-sungguh, mereka mendadak gagap.
Ternyata dugaan saya meleset.
Pak Dosen membuka perkuliahan dengan sebuah pernyataan yang kira-kira begini:
“Saya muslim, tetapi saya tidak akan pernah percaya bahwa Islam adalah sebenar-benarnya agama.”
Kelas langsung hening.
Saya dan beberapa teman saling berpandangan. Ada yang memeriksa jadwal kuliah. Ada yang melihat nomor ruangan. Saya sendiri sempat menengok ke arah pintu, memastikan kami tidak salah masuk kelas.
Jadwalnya benar.
Ruangannya juga benar.
Mata kuliahnya Pancasila.
Hanya mukadimahnya saja yang datang dari arah yang sama sekali tidak kami perkirakan.
Pak Dosen kemudian bercerita bahwa beliau pernah melaksanakan KKN di sebuah daerah yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Selama berada di sana, masyarakat memperlakukannya dengan sangat baik.
Bahkan ketika hari Jumat tiba, warga desa mengantarkan beliau menuju masjid yang berada di desa lain agar beliau dapat melaksanakan salat Jumat.
Cerita itu tentu menghangatkan hati. Di sebuah daerah yang penduduk muslimnya sedikit, orang-orang yang berbeda agama justru menjaga kebutuhan ibadah tamu mereka. Mereka tidak ikut salat Jumat, tetapi membantu seorang muslim agar dapat menunaikannya.
Masalahnya, cerita itu kemudian dibandingkan dengan penutupan gereja, bahkan penghancuran gereja, di beberapa daerah yang mayoritas penduduknya muslim.
Kurang lebih, kesimpulan yang diarahkan kepada kami adalah: lihatlah betapa baiknya mereka kepada seorang muslim, sementara di tempat lain orang-orang muslim justru memperlakukan umat Kristen dengan buruk.
Saya tidak ingat persis semua kalimatnya. Namun saya ingat perasaan yang tertinggal: kami seperti sedang diminta mempertanggungjawabkan semua perbuatan buruk yang pernah dilakukan orang Islam, padahal jangankan ikut menutup gereja, letak gerejanya saja kami tidak tahu.
Beliau lalu melanjutkan kuliah dengan menjelaskan ketidakyakinannya terhadap Al-Qur’an.
Salah satu contohnya adalah Surah Al-Fil.
“Surah Al-Fil itu tentang gajah,” katanya. “Memangnya di Makkah ada gajah?”
Kalau pernyataan semacam itu saya dengar hari ini, mungkin saya akan segera memahami letak masalahnya. Surah Al-Fil tidak sedang menjelaskan bahwa Makkah merupakan habitat alami gajah. Pasukan bergajah itu datang dari Yaman menuju Makkah. Gajahnya dibawa oleh pasukan, bukan ditemukan sedang berjalan-jalan santai di sekitar Ka’bah.
Kurang lebih sama seperti menemukan unta di Bogor. Keberadaan seekor unta di Bogor tidak otomatis menjadikan Bogor habitat asli unta. Bisa jadi untanya memang dibawa orang. Bisa jadi ia tinggal di tempat wisata. Bisa juga sedang mencari udara yang sedikit lebih sejuk. Kita tidak pernah tahu.
Tetapi saya yang waktu itu baru lulus SMA tentu belum sanggup menjawab sejauh itu.
Pelajaran agama saya hanya datang sekali dalam sepekan melalui halaqah pekanan. Itu pun materinya harus berbagi tempat dengan persoalan akidah, fikih, akhlak, sirah, hafalan, dan kadang-kadang urusan konsumsi.
Saya hanya bisa melongo.
Teman-teman saya yang sama-sama berasal dari SMA umum juga melakukan hal serupa. Kami duduk diam sambil berusaha memahami bagaimana mata kuliah Pancasila mendadak berubah menjadi kuliah tentang alasan seorang dosen tidak meyakini kebenaran Islam.
Belakangan saya memahami bahwa ada beberapa perkara yang dicampuradukkan dalam perkuliahan itu.
Kebaikan orang-orang Kristen kepada seorang muslim adalah kenyataan yang patut dihargai. Kezaliman sebagian orang Islam kepada pemeluk agama lain juga merupakan perbuatan yang harus dikritik.
Namun, kebaikan seorang pemeluk agama tidak dengan sendirinya membuktikan kebenaran seluruh keyakinannya. Begitu pula keburukan seorang muslim tidak otomatis membatalkan kebenaran Islam.
Kalau seorang guru matematika berlaku kasar kepada muridnya, yang keliru adalah perilaku gurunya. Bukan rumus perkaliannya.
Sayangnya, pada usia itu, kami belum mampu merumuskan pikiran tersebut dengan rapi. Yang kami miliki baru sebatas kegelisahan, kebingungan, dan perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak tepat, tetapi kami belum tahu nama ketidaktepatan itu.
Sepulang kuliah, saya dan teman-teman mengeluh sepanjang jalan.
Keluhan itu berlanjut ketika kami menaiki TransJakarta dari halte UNJ menuju Manggarai. Perjalanan sekitar tiga puluh menit tersebut akhirnya berubah menjadi kelas pengganti.
Salah seorang teman berdiri sebagai dosen tidak resmi. Tanpa papan tulis, tanpa spidol, dan tentu saja tanpa SKS, ia memberikan kuliah singkat mengenai turunnya Al-Qur’an. Ia menjelaskan sebisanya. Kami mendengarkan sebisanya.
Penjelasannya mungkin belum lengkap. Dalilnya mungkin belum tersusun rapi. Tetapi setidaknya, di dalam bus yang bergerak di antara kemacetan Jakarta itu, ia berusaha merawat sesuatu yang beberapa saat sebelumnya diguncang di ruang kuliah.
Begitulah salah satu perkuliahan Pancasila yang paling saya ingat.
Kami masuk kelas dengan harapan belajar mengenai dasar negara. Kami keluar membawa persoalan tentang dasar keimanan.
Dan barangkali itulah untuk pertama kalinya saya menyadari bahwa kegoyahan iman tidak selalu datang melalui perdebatan filsafat yang rumit. Kadang-kadang ia datang melalui sebuah pertanyaan sederhana tentang seekor gajah, dilontarkan dengan sangat yakin kepada mahasiswa-mahasiswa yang belum memiliki cukup ilmu untuk menjawabnya.
Untunglah, pada hari itu ada seorang teman yang bersedia mengubah perjalanan dengan TransJakarta menjadi halaqah darurat.
Jakarta tetap macet. Bus tetap berhenti di setiap halte. Orang-orang tetap naik dan turun.
Namun di antara UNJ dan Manggarai, kami sedang berusaha memunguti kembali keyakinan kami yang sempat dibuat berantakan di kelas Pancasila.
