Bagaimana Rasulullah Menyikapi Kesalahan (Bagian 2)

Pada tulisan bagian pertama, telah dijelaskan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan seseorang melakukan kesalahan adalah al-jahl (ketidaktahuan). Karena itu, ketika akar kesalahan adalah ketidaktahuan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ilmu dan pengajaran daripada memarahi.

Faktor kedua adalah al-khauf (rasa takut).

Salah satu contohnya adalah kisah Hatib bin Abi Balta’ah radhiyallahu ‘anhu menjelang Fathu Makkah. Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang menyiapkan ekspedisi menuju Makkah secara rahasia. Kerahasiaan strategi ini sangat penting karena menyangkut keselamatan kaum muslimin dan keberhasilan operasi militer.

Namun Hatib menulis sepucuk surat yang berisi informasi tentang pergerakan kaum muslimin, lalu menitipkannya kepada seorang wanita untuk dibawa ke Makkah. Atas pemberitahuan dari Allah, Rasulullah mengetahui hal tersebut dan surat itu berhasil diamankan sebelum sampai kepada Quraisy.

Jika dilihat sepintas, kesalahan Hatib sangat besar. Dalam bahasa modern, tindakannya bahkan dapat dianggap setingkat membocorkan rahasia militer kepada pihak musuh.

Namun perhatikan bagaimana Rasulullah menyikapinya.

Beliau tidak langsung menjatuhkan vonis. Beliau tidak langsung menghukum.

Pertama-tama Rasulullah bertanya:

“Wahai Hatib, apa yang mendorongmu melakukan hal ini?”

Hatib kemudian menjelaskan bahwa dirinya bukan berasal dari keluarga Quraisy yang memiliki banyak kerabat kuat di Makkah. Ia masih memiliki keluarga yang tinggal di sana dan khawatir keselamatan mereka terancam. Ia berharap dengan jasa yang diberikan kepada Quraisy, keluarganya akan mendapatkan perlindungan.

Hatib berkata:

“Demi Allah, aku tidak melakukannya karena kufur setelah beriman, dan bukan pula karena ridha terhadap kekufuran setelah Allah memberikan Islam kepada kami.”

Mendengar hal itu, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal leher orang munafik ini!”

Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya ia telah ikut dalam Perang Badar. Tahukah engkau, boleh jadi Allah telah melihat para peserta Badar lalu berfirman: ‘Lakukanlah apa yang kalian kehendaki, sungguh Aku telah mengampuni kalian.'”

Dalam peristiwa ini Rasulullah tidak hanya melihat perbuatannya, tetapi juga melihat motif di balik perbuatan tersebut.

Hatib memang salah. Namun kesalahannya bukan karena pengkhianatan terhadap Islam. Ia melakukan itu karena rasa takut terhadap keselamatan keluarganya.

Dengan kata lain, Rasulullah tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa yang ia lakukan?” Beliau melanjutkannya dengan pertanyaan yang lebih penting, “Mengapa ia melakukannya?”

Faktor ketiga adalah al-gharizah al-basyariyyah (naluri kemanusiaan).

Suatu hari datang seorang pemuda kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

“Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina.”

Ucapan itu membuat para sahabat marah. Mereka berkata:

“Mah! Mah!” (ungkapan untuk menyuruh diam dan mengingkari ucapannya).

Bagi mereka, permintaan tersebut sangat tidak pantas diucapkan di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun sekali lagi, Rasulullah tidak bersikap reaktif.

Beliau memanggil pemuda itu mendekat dan mengajaknya berdialog.

Rasulullah bertanya:

“Apakah engkau rela jika hal itu dilakukan terhadap ibumu?”

Pemuda itu menjawab:

“Tidak, demi Allah.”

Rasulullah berkata:

“Begitu pula manusia tidak rela hal itu dilakukan terhadap ibu mereka.”

Kemudian Rasulullah bertanya lagi:

“Apakah engkau rela jika hal itu dilakukan terhadap putrimu?”

“Apakah engkau rela jika hal itu dilakukan terhadap saudara perempuanmu?”

“Apakah engkau rela jika hal itu dilakukan terhadap bibimu dari pihak ayah?”

“Apakah engkau rela jika hal itu dilakukan terhadap bibimu dari pihak ibu?”

Setiap kali pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah.”

Dan setiap kali itu pula Rasulullah menjelaskan bahwa orang lain pun tidak rela jika hal tersebut menimpa keluarga mereka.

Melalui dialog yang sangat sederhana namun menyentuh fitrah manusia, Rasulullah mengubah cara pandang pemuda tersebut terhadap zina.

Setelah itu Rasulullah meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut lalu berdoa:

“Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

Perawi hadis menyebutkan bahwa setelah peristiwa itu, tidak ada sesuatu yang lebih dibenci oleh pemuda tersebut selain zina. Dan pemuda ini menghindari segala sesuatu yang mendekatkannya kepada zina.

Dalam kisah ini, Rasulullah memahami bahwa akar masalahnya bukanlah pembangkangan terhadap syariat, melainkan dorongan naluri manusia yang tidak diarahkan dengan benar. Karena itu obat yang beliau berikan bukan hardikan, melainkan al hiwar (dialog), empati, dan penyucian hati.

Dari dua kisah ini kita belajar bahwa Rasulullah tidak hanya melihat kesalahan, tetapi juga memahami manusia di balik kesalahan tersebut.

Beliau memperhatikan motif, kondisi, dan faktor yang melatarbelakangi sebuah tindakan. Karena itulah metode beliau dalam memperbaiki kesalahan begitu efektif dan membekas dalam jiwa para sahabat.

Selain melihat motif di balik sebuah kesalahan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membedakan apakah kesalahan tersebut hanya berdampak pada urusan dunia atau memiliki konsekuensi terhadap akhirat. Pembahasan inilah yang akan kita lanjutkan pada bagian ketiga.

Tinggalkan Balasan