Guru-guru saya sering berkata bahwa salah satu tanda kiamat dunia pendidikan adalah ketika para gurunya berhenti belajar. Karena itu, sesibuk apa pun seorang guru, kesibukan tersebut tidak seharusnya menghentikannya dari proses belajar. Termasuk belajar metode mengajar. Termasuk belajar memahami murid. Dan termasuk belajar bagaimana menyikapi kesalahan murid.
Guru terbaik untuk mempelajari semua itu tentu saja adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Syaikh Adham Al-‘Ashimi dalam salah satu muhadharahnya menyebutkan bahwa jika kita ingin mengetahui keberhasilan Rasulullah sebagai seorang pendidik, maka cukuplah kita melihat dua ayat Al-Qur’an.
Pertama, firman Allah Ta’ala:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Hikmah, padahal sebelumnya mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah: 2)
Ayat ini menggambarkan proses pendidikan yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana beliau memulai proses pendidikan itu dari generasi yang benar – benar dalam kejahiliyyahan dan kesesatan yang nyata.
Kedua, firman Allah Ta’ala:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 110)
Ayat ini menggambarkan hasil pendidikan tersebut.
Maka keberhasilan pendidikan Islam tidak hanya diukur dari banyaknya ilmu yang dimiliki murid, tetapi apakah pendidikan itu berhasil melahirkan karakter khairu ummah sebagaimana yang dihasilkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalam kitab Al-Furūq, disebutkan bahwa seandainya Rasulullah tidak memiliki mukjizat selain para sahabat yang beliau didik, maka keberadaan para sahabat itu sendiri sudah cukup menjadi bukti kebenaran risalah beliau.
Namun para sahabat bukanlah manusia yang tidak pernah salah. Mereka juga melakukan kesalahan. Dan kesalahan merupakan sesuatu yang sangat dekat dengan dunia pendidikan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)
Kesalahan adalah bagian dari fitrah basyariyah, fitrah kemanusiaan. Namun fitrah tersebut bukan untuk dinormalisasi. Justru karena manusia pasti berbuat salah, maka setiap kesalahan harus diperbaiki agar seseorang menjadi bagian dari at-tawwābūn, orang-orang yang senantiasa kembali kepada Allah.
Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian, lalu mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa kemudian mereka memohon ampun kepada Allah, lalu Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim)
Ada sebuah kitab yang menarik membahas tema ini, berjudul Al-Manhaj An-Nabawi fi Taqwim Al-Akhtha’ (Metode Nabi dalam Menyikapi dan Meluruskan Kesalahan). Kitab ini merupakan disertasi yang ditulis oleh Dr. Muhammad Yusuf Asy-Syaththi, seorang guru besar asal Kuwait.
Salah satu hal yang menarik perhatian saya dari kitab ini adalah penegasan beliau bahwa kesalahan tidak selalu identik dengan dosa.
Karena itu beliau terlebih dahulu membahas makna kata khatha’ dalam bahasa Arab. Menurut beliau, kata tersebut memiliki beberapa makna yang saling berdekatan, di antaranya:
- Tidak mengenai sasaran (‘adam al-ishābah)
- Menyimpang dari arah yang benar (al-‘udūl ‘an al-jihah)
- Kelalaian atau lupa (as-sahwu wan-nisyān)
- Melakukan sesuatu yang tidak semestinya
- Dosa atau pelanggaran
- Menyalahi kebenaran dan ketepatan
Dari sini kita memahami bahwa tidak semua kesalahan lahir dari pembangkangan.
Karena itulah ketika para sahabat melakukan kesalahan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersikap reaktif. Beliau menelusuri sebabnya terlebih dahulu. Beliau melihat besar kecilnya kesalahan tersebut. Beliau mempertimbangkan kondisi pelakunya. Kemudian beliau memilih metode penanganan yang paling tepat.
Ada kesalahan yang lahir karena ketidaktahuan. Ada yang terjadi karena lupa. Ada pula yang muncul dari ijtihad yang tidak tepat.
Karena itu Asy-Syaththi mendefinisikan kesalahan sebagai: “Penyimpangan dari kebenaran dalam ucapan, keyakinan, atau perbuatan yang dapat muncul karena kebodohan, kelalaian, lupa, hawa nafsu, maupun kesengajaan. Oleh sebab itu, kesalahan tidak selalu menunjukkan rusaknya pelaku, tetapi harus dilihat sebab dan jenisnya sebelum diberikan penilaian maupun perlakuan.”
Inilah mengapa beliau tidak langsung membahas hukuman terhadap kesalahan. Beliau justru memulai pembahasannya dengan faktor-faktor yang menyebabkan seseorang berbuat salah, bagaimana syariat memandang kesalahan tersebut, serta bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegah dan memperbaikinya.
Lalu bagaimana jika kesalahan itu dilakukan secara sengaja?
Asy-Syaththi menjelaskan bahwa seorang pendidik tetap harus mencari akar permasalahannya. Setidaknya ada beberapa faktor yang sering melatarbelakangi kesalahan manusia, di antaranya:
- Al-jahl (ketidaktahuan)
- Al-khauf (rasa takut)
- Al-gharizah al-basyariyyah (naluri kemanusiaan)
Pertama: Al-Jahl (Ketidaktahuan)
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan perjalanan bersama para sahabat.
Ketika malam tiba, Rasulullah merasakan kantuk yang sangat berat. Beliau meminta agar ada seseorang yang berjaga untuk membangunkan rombongan ketika waktu Subuh tiba.
Namun ternyata semua tertidur lelap. Tidak ada yang membangunkan mereka hingga terik matahari menyinari wajah mereka.
Ketika terbangun, para sahabat tentu sangat gelisah karena waktu Subuh telah terlewat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengajak mereka berpindah ke tempat lain, lalu melaksanakan shalat.
Beliau bersabda:
“Tidak ada kelalaian dalam tidur. Kelalaian itu ada pada orang yang tidak melaksanakan shalat hingga datang waktu shalat berikutnya.”
Rasulullah menenangkan para sahabat. Beliau memahami bahwa apa yang terjadi bukanlah bentuk pembangkangan, tetapi sesuatu yang berada di luar kesengajaan mereka.
Contoh lain adalah kisah Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu ‘anhu.
Suatu hari ia mengikuti shalat berjamaah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ada seseorang yang bersin lalu mengucapkan Alhamdulillah, Mu’awiyah spontan menjawab:
“Yarhamukallah.”
Para sahabat yang sedang shalat langsung memandangnya tajam. Mu’awiyah adalah orang baduy sehingga ia bingung sekaligus marah dengan tatapan tersebut.
Ia bahkan berkata bahwa beberapa sahabat memukul paha mereka sebagai isyarat agar ia diam.
Setelah shalat selesai, Mu’awiyah mengira ia akan dimarahi.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Mu’awiyah berkata:
“Demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya, aku tidak pernah melihat seorang guru sebelum maupun sesudah beliau yang lebih baik pengajarannya daripada Rasulullah. Demi Allah, beliau tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak pula mencelaku.”
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menjelaskan:
“Sesungguhnya shalat ini tidak pantas di dalamnya terdapat percakapan manusia. Yang ada di dalamnya hanyalah tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur’an.”
Dalam dua kisah ini kita melihat satu pola yang sama.
Rasulullah tidak memulai dengan kemarahan.
Beliau terlebih dahulu memahami penyebab kesalahan.
Karena akar masalahnya adalah ketidaktahuan, maka obat yang diberikan adalah ilmu, bukan hardikan.
(Bersambung pada bagian kedua: Al-Khauf dan Al-Gharizah Al-Basyariyyah).
