Tokoh yang Terlewat dari Bab Sidang Dasar Negara

2 pekan yang lalu, sebagaimana tahun-tahun yang lalu, kita memperingati Hari Lahir Pancasila.

Membahas soal sejarah Pancasila, selama 12 tahun kita belajar di sekolah, selama itu pula kita diajarkan bahwa perumus dasar negara ada tiga orang: Mohammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno.

Padahal negeri ini pada masa itu memiliki begitu banyak cendekiawan Muslim. Ada KH. Agus Salim, Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, K.H. Wahid Hasyim, Kiai Haji Sanusi, Kasman Singodimedjo, dan banyak lagi tokoh lainnya. Bukankah aneh jika para tokoh ini tidak memiliki gagasan tentang dasar negara?

Nampaknya, sejarah yang sampai kepada kita hanya menyisakan sebagian suara. Sementara sebagian suara lain perlahan tenggelam. Mungkin Mohammad Yamin terlewat menuliskan pidato selain dirinya, Soekarno, dan Soepomo.

Kiai Haji Sanusi misalnya. Dalam sidang BPUPKI ia mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak akan diraih kecuali atas rahmat Allah. Karena itu, menurutnya, bentuk syukur bangsa ini adalah menjadikan hukum-hukum Allah sebagai pedoman kehidupan bernegara.

Tentu saja pendapat itu memunculkan tanggapan dan perdebatan. Mohammad Yamin kemudian membacakan rumusannya tentang dasar negara: Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat. Rumusan ini mendapatkan banyak sambutan.

Namun sejarah belum selesai.

Seorang tokoh Muhammadiyah berdiri menuju podium. Ia mengenakan blangkon dan sarung. Namanya Ki Bagus Hadikusumo.

Pidatonya dibuka dengan salam. Lalu kalam suci kembali bergema di ruang sidang para pendiri bangsa.

Bagi Ki Bagus, persoalan dasar negara bukan sekadar persoalan politik. Ia adalah persoalan pandangan hidup. Manusia tidak mungkin hidup sendiri. Manusia hidup bermasyarakat dan setiap masyarakat memerlukan pemimpin. Karena itulah Allah mengutus para nabi sebagai pembimbing manusia.

“Tuan-tuan wakil rakyat harus mengikuti Nabi agar selalu ikhlas dan jauh dari sifat tamak, terlebih mementingkan diri dan golongan sendiri.”

Karena itu, membentuk negara pun harus mengikuti teladan para nabi.

Sepanjang pidatonya, Ki Bagus tidak berbicara dengan teori-teori politik Barat. Ia berbicara dengan Al-Qur’an.

Ketika membahas kemakmuran negara, ia membacakan ayat tentang lautan yang ditundukkan Allah bagi manusia. Ketika membahas pertahanan negara, ia membacakan Surah ash-Shaf:

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? … Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Bagi Ki Bagus, pertahanan negara tidak cukup dibangun dengan senjata. Ia dibangun oleh iman, pengorbanan, dan jihad fi sabilillah.

Kemudian ia mengutip ayat-ayat tentang keadilan, amanah, musyawarah, dan kepemimpinan. Surah an-Nahl ayat 90, Surah an-Nisa ayat 5, Surah Ali Imran ayat 159, dan Surah asy-Syura ayat 38 dibacakan satu demi satu.

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…”

“…dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.”

“…sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.”

Lalu Ki Bagus mengajukan pertanyaan yang menggema hingga hari ini:

“Tuan-Tuan dan sidang yang terhormat! Dalam negara kita, niscaya tuan-tuan menginginkan berdirinya satu pemerintahan yang adil dan bijaksana, berdasarkan budi pekerti yang luhur, bersendi permusyawaratan dan putusan rapat, serta luas berlebar dada tidak memaksa tentang agama. Kalau benar demikian, dirikanlah pemerintahan itu atas agama Islam, karena ajaran Islam mengandung kesampaiannya sifat-sifat itu.”

Perhatikan baik-baik.

Argumen Ki Bagus bukanlah bahwa Indonesia harus berdasarkan Islam semata-mata karena mayoritas rakyatnya Muslim.

Argumennya lebih dalam dari itu.

Menurutnya, jika para anggota BPUPKI menginginkan keadilan, kebijaksanaan, musyawarah, akhlak yang luhur, dan kebebasan beragama, maka semua nilai itu justru telah terkandung dalam Islam.

Karena itu, menurut beliau, mendirikan negara berdasarkan Islam bukan berarti meninggalkan nilai-nilai kebangsaan. Justru sebaliknya, Islam adalah sumber yang melahirkan nilai-nilai tersebut.

Ki Bagus kemudian mengingatkan para anggota sidang tentang sejarah bangsa Indonesia.

Umat Islam, katanya, walaupun ekonominya lemah, mampu mendirikan ribuan pondok, langgar, masjid, sekolah, dan rumah sakit. Semua itu menunjukkan adanya tenaga besar yang hidup di dalam umat karena iman.

Para pahlawan yang melawan penjajah pun tidak berjuang dalam ruang hampa.

Teuku Umar. Imam Bonjol. Pangeran Diponegoro. Sarekat Islam.

“Mereka mendapat sambutan rakyat yang begitu besar karena pengaruh agama Islam.”

Di penghujung pidatonya, Ki Bagus menyampaikan sesuatu yang jarang dikutip dalam buku pelajaran.

“Oleh karena itu, Tuan-Tuan, saya sebagai seorang bangsa Indonesia tulen, bapak dan ibu saya bangsa Indonesia, nenek moyang saya pun bangsa Indonesia juga yang asli dan murni belum ada campurannya; dan sebagai seorang Muslim yang mempunyai cita-cita Indonesia Raya dan Merdeka, maka supaya Negara Indonesia merdeka itu dapat berdiri tegak dan teguh, kuat dan kokoh, saya mengharapkan akan berdirinya negara Indonesia itu berdasarkan agama Islam.”

Kalimat ini menarik.

Sebelum berbicara tentang Islam, Ki Bagus terlebih dahulu menegaskan dirinya sebagai bangsa Indonesia. Seolah beliau hendak menepis anggapan bahwa memperjuangkan Islam berarti tidak mencintai tanah air.

Bagi Ki Bagus, nasionalisme Indonesia dan Islam bukan dua hal yang bertentangan.

Bahkan ia mengingatkan:

“Janganlah hendaknya jiwa yang 90 persen dari rakyat itu bahkan saja tidak dipedulikan.”

Dan dengan penuh keyakinan ia bertanya:

“Kalau jiwa manusia tidak mau bertunduk kepada agama perintah Allah, apakah kiranya akan suka bertunduk kepada perintah pikiran yang timbul dari hawa nafsu yang buruk?”

Setelah menyampaikan seluruh gagasannya, Ki Bagus menutup pidato dengan doa dan harapan:

“Mudah-mudahan Negara Indonesia baru yang akan datang itu, berdasarkan agama Islam dan akan menjadi negara yang tegak dan teguh, serta kuat dan kokoh. Aamiin.”

Inilah salah satu suara yang jarang kita dengar ketika sejarah perumusan dasar negara diajarkan di sekolah.

Inilah suara seorang ulama, pejuang kemerdekaan, dan pendiri bangsa yang meyakini bahwa Indonesia akan menjadi lebih kuat apabila dibangun di atas nilai-nilai Islam yang diyakininya.

Tinggalkan Balasan