Sebenarnya bagi generasi salaf, menangis saat membaca Al-Qur’an adalah habit (kebiasaan). Sedangkan bagi kita, menangis saat membaca Al-Qur’an belum menjadi hal yang biasa. Karena itu ketika mendengar ada orang yang menangis saat membaca Al-Qur’an, atau seorang imam terisak ketika membaca suatu ayat dalam shalat, kita buru-buru ingin mengetahui ayat apa yang sedang dibacanya.
Namun ada sesuatu yang membuat saya tertarik dengan kisah Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan ayat ini. Bukan karena beliau menangis karena para salaf memang sering menangis ketika membaca Al-Qur’an. Yang membuat saya penasaran adalah karena beliau menangis sangat lama.
Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar menuturkan kisah tentang bibinya, Sayyidah ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha. Sudah menjadi kebiasaan, Al-Qasim memulai hari dengan mengunjungi rumah istri Rasulullah ﷺ tersebut. Ia datang untuk mengucapkan salam dan menanyakan kabarnya, sebagai salah satu bentuk akhlak seorang muslim.
“Suatu pagi,” tutur Al-Qasim, “aku datang dan menjumpainya sedang mendirikan shalat.”
Dalam shalatnya, Sayyidah ‘Aisyah membaca sebuah ayat yang diulang-ulang. Beliau berdoa, menangis, dan terus mengulang ayat tersebut.
Al-Qasim menunggu. Lama sekali menunggu. Namun Sayyidah ‘Aisyah tetap dalam shalatnya.
“Aku pun bosan menunggu,” kata Al-Qasim.
Ia lalu pergi ke pasar untuk menunaikan keperluannya. Waktu berlalu. Pagi berubah menjadi siang. Orang-orang mulai sibuk dengan perdagangan dan pekerjaan mereka. Ketika Al-Qasim kembali, ia mendapati bibinya masih berdiri dalam shalat dan masih menangis.
Kisah menakjubkan ini dinukil oleh Imam Ibnul Jauzi dalam Shifatu Shafwah.
Ayat yang diulang-ulang oleh Ummul Mukminin adalah firman Allah Ta’ala:
فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ
“Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.”
(QS. Ath-Thur: 27)
Jika kita membaca ayat ini sekilas, mungkin kita tidak menemukan sesuatu yang membuat seseorang berdiri berjam-jam sambil menangis. Namun ketika kita memperhatikan ayatnya, ayat ini adalah ucapan penduduk surga.
Mereka telah melewati kehidupan dunia.
Mereka telah melewati fitnah (sebagaimana yang Sayyidah Aisyah alami dalam peristiwa haditsul ifk), ujian, kesedihan, kehilangan, rasa takut, dan berbagai kesulitan ketika mereka hidup di dunia.
Mereka telah melewati kematian, hisab, shirath. Hingga sampai mereka berdiri di surga.
Lalu kalimat yang keluar dari lisan mereka bukanlah:
“Aku berhasil.”
Bukan pula:
“Aku masuk surga karena amal-amalku.”
Mereka tidak berkata:
“Karena aku berjihad.”
“Karena aku berilmu.”
“Karena aku berdakwah.”
“Karena aku beribadah lebih banyak dari yang lain.”
Tidak.
Kalimat pertama yang mereka ucapkan adalah:
فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا
“Allah telah memberikan karunia kepada kami.”
Mereka menyadari bahwa seluruh perjalanan panjang itu berakhir bukan karena amal mereka, melainkan karena rahmat Allah.
Betapa berbeda dengan manusia hari ini.
Ketika berhasil, kita sering berkata:
“Aku bekerja keras untuk ini.”
“Aku pantas mendapatkannya.”
“Terima kasih untuk diriku sendiri.”
Padahal setiap kemudahan yang mengantarkan kita kepada kebaikan adalah karunia Allah. Kemampuan untuk bertahan di masa sulit adalah karunia Allah.
Kemampuan untuk beramal adalah karunia Allah.
Keinginan untuk bertobat adalah karunia Allah.
Kesempatan untuk mengenal kebenaran adalah karunia Allah.
Bahkan kemampuan untuk menangis karena takut kepada Allah pun adalah karunia Allah.
Karena itu penduduk surga tidak memandang amal mereka. Mereka memandang karunia Rabb mereka.
Lalu mereka melanjutkan:
وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ
“Dan Dia melindungi kami dari azab yang sangat panas.”
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang masuk surga.
Tapi juga tentang orang – orang yang diselamatkan dari neraka.
Betapa banyak manusia yang berharap mendapatkan sesuatu yang besar, tetapi lupa bersyukur karena telah diselamatkan dari sesuatu yang jauh lebih buruk.
Penduduk surga tidak hanya bergembira karena memperoleh surga. Mereka juga bersyukur karena Allah menyelamatkan mereka dari azab-Nya.
Mereka mengingat malam-malam ketika mereka takut kepada Allah.
Mereka mengingat doa-doa yang dipanjatkan dalam kesunyian.
Mereka mengingat air mata yang jatuh tanpa diketahui manusia.
Mereka mengingat kegelisahan ketika memikirkan akhir kehidupan mereka.
Lalu mereka mengetahui bahwa semua ketakutan itu tidak sia-sia.
Mereka selamat dan akhirnya sampai.
Barangkali itulah sebabnya Sayyidah ‘Aisyah menangis begitu lama.
Beliau adalah istri Rasulullah ﷺ. Beliau adalah wanita paling berilmu pada zamannya. Namun beliau tidak memandang dirinya dengan pandangan manusia. Beliau memandang dirinya sebagai seorang hamba yang sangat membutuhkan rahmat Allah.
Beliau belum berada di surga ketika membaca ayat itu.
Beliau masih berada di dunia.
Masih menunggu akhir perjalanan.
Masih berharap agar suatu hari nanti termasuk orang-orang yang dapat mengucapkan kalimat yang sama:
فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ
“Allah telah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.”
Dan mungkin, selama seorang hamba belum mendengar keputusan akhir tentang dirinya, selama ia masih berjalan di dunia dengan segala kekurangan dan dosanya, selalu ada alasan untuk menangis di hadapan ayat ini.
