Ketika Ibrahim ‘Alaihissalam Disebut Sebagai Umat

Ketika membaca surat An-Nahl ayat 120, saya sempat berhenti cukup lama untuk memahami ayat tersebut :

إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

Artinya:

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang umat (imam) yang dapat dijadikan teladan, lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).”

Saya bertanya-tanya, mengapa Nabi Ibrahim `alaihis salam disebut sebagai umat padahal beliau hanya seorang diri?

Kata umat dalam ayat ini memang sering dijelaskan sebagai imam, teladan, atau seseorang yang menghimpun berbagai sifat kebaikan dalam dirinya. Pemahaman ini selaras dengan penjelasan Ibnu Mas’ud ketika menerangkan makna umat:

“Umat adalah orang yang mengajarkan kebaikan, diikuti dan diteladani. Sedangkan qanit adalah orang yang taat kepada Allah.”

Beliau kemudian menyebut Mu’adz bin Jabal sebagai contoh orang yang dapat disebut umat karena menjadi pengajar kebaikan, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta menjadi teladan bagi manusia.

Penjelasan ini sudah sangat mudah dipahami. Namun rasa penasaran saya belum sepenuhnya terjawab. Mengapa Al-Qur’an memilih kata umat untuk Nabi Ibrahim? Mengapa bukan sekadar nabi, rasul, atau imam? Bukankah Nabi Ibrahim juga sudah disebut sebagai uswatun hasanah dalam surat al-Mumtahanah?

Jawaban yang lebih dalam saya temukan ketika membaca kitab Al-Ummah Al-Muslimah karya Dr. Majid Irsan Al-Kilani.

Dari kitab tersebut saya menyadari bahwa untuk memahami mengapa Ibrahim disebut sebagai umat, kita perlu menjawab satu pertanyaan yang lebih mendasar terlebih dahulu:

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan umat?

Biasanya kita memahami umat sebagai sekelompok orang yang bergerak menuju tujuan tertentu. Ketika mendengar istilah “umat Islam”, yang terbayang sering kali adalah kumpulan kaum muslimin yang tersebar di berbagai negara.

Namun Al-Kilani mengajak kita melihat konsep umat dari sudut pandang yang berbeda.

Menurut beliau, umat berkaitan erat dengan risalah.

Dalam pengertian ini, umat adalah manusia yang menjalankan risalah.

Risalah merupakan seperangkat nilai, prinsip, dan petunjuk yang memberikan teladan terbaik bagi individu maupun masyarakat. Risalah menunjukkan jalan kebaikan agar manusia dapat menempuhnya, sekaligus menjelaskan jalan keburukan agar mereka menjauhinya.

Al-Qur’an sering menyebut fungsi risalah ini dengan istilah:

amar ma’ruf dan nahi munkar.

Dari sini, makna umat menjadi jauh lebih luas daripada yang biasa kita bayangkan.

Keberadaan umat tidak disyaratkan oleh hubungan darah, wilayah geografis tertentu, ataupun jumlah tertentu.

Unsur manusia dalam umat bisa berupa:

  • satu orang,
  • sekelompok orang,
  • suatu golongan,
  • satu generasi,
  • beberapa generasi,
  • bahkan seluruh umat manusia,

selama mereka memikul risalah yang sama, memahami risalah tersebut dengan cara yang sama, dan melahirkan penerapan-penerapan nyata yang menjaga keberlangsungan serta kemajuan kehidupan manusia.

Di sinilah saya mulai memahami mengapa Al-Qur’an menyebut Ibrahim sebagai umat.

Ternyata konsep umat dalam Islam melampaui keluarga, kesukuan, bahkan kebangsaan. Di mana ada risalah yang dijalankan, di situ konsep umat bekerja.

Karena itu keberlangsungan sebuah umat tidak bergantung pada jumlah penduduknya, tetapi pada keberlangsungan mereka dalam memikul dan menerapkan risalah tersebut.

Apabila sebuah umat melemah dalam menjalankan risalahnya, berhenti melahirkan generasi pembawa risalah, atau penerapan risalah itu menyusut dalam kehidupan, maka keberadaan umat tersebut pada hakikatnya mulai berakhir.

Kemudian posisinya digantikan oleh umat lain yang tidak memiliki hubungan hakiki dengannya, meskipun mungkin memiliki hubungan darah, bahasa, budaya, atau tanah air yang sama.

Pemahaman inilah yang membuat ucapan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menjadi sangat menarik ketika menafsirkan firman Allah:

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia…” (Ali Imran: 110)

Beliau berkata:

“Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia akan berfirman: ‘Kalian adalah umat terbaik’, sehingga seluruh kita termasuk di dalamnya. Akan tetapi Allah berfirman kepada para sahabat Rasulullah ﷺ dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Mereka adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.”

Pada kesempatan lain beliau berkata:

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Hal itu berlaku bagi generasi awal kami dan tidak berlaku bagi generasi akhir kami.”

Bahkan pada suatu musim haji beliau membaca ayat tersebut lalu berkata:

“Wahai manusia, barang siapa ingin termasuk ke dalam umat itu, maka hendaklah ia memenuhi syarat yang Allah tetapkan padanya.”

Dengan kata lain, predikat umat bukanlah identitas yang diwarisi secara otomatis. Ia merupakan amanah yang harus dijalankan.

Dari sinilah kita dapat kembali kepada Nabi Ibrahim `alaihis salam.

Menurut Al-Kilani, persiapan bagi kemunculan fenomena umat Islam sebenarnya telah dimulai sejak risalah Nabi Ibrahim.

Al-Qur’an menggambarkan beliau dengan firman Allah:

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang umat, tunduk patuh kepada Allah, hanif, dan tidak termasuk orang-orang musyrik.”

Risalah Ibrahim memiliki posisi yang unik dalam sejarah manusia.

Ketika kehidupan manusia masih berada pada tahap keluarga, risalah yang datang pun bersifat kekeluargaan, sebagaimana risalah Nabi Adam `alaihis salam.

Ketika manusia berkembang menuju kehidupan kabilah dan komunitas-komunitas kecil, risalah yang datang pun berorientasi pada kabilah tersebut, seperti risalah Nabi Hud dan Nabi Shalih `alaihimassalam.

Kemudian ketika masyarakat berkembang menuju tahap qaum, risalah-risalah yang datang pun mengikuti bentuk masyarakat tersebut, seperti risalah Nabi Nuh `alaihis salam.

Namun risalah Ibrahim membawa manusia menuju tahap yang lebih tinggi.

Konsep umat Islam yang beliau letakkan fondasinya tidak dibangun di atas hubungan darah sebagaimana qaum, dan tidak pula dibangun di atas wilayah geografis sebagaimana sya’b atau bangsa.

Ia dibangun di atas risalah.

Karena itu umat Islam mampu menghimpun berbagai bangsa, berbagai suku, berbagai warna kulit, dan berbagai wilayah ke dalam satu ikatan yang sama.

Ikatan tersebut bukan kesamaan nenek moyang, bukan kesamaan bahasa, dan bukan pula kesamaan tanah air.

Ikatan itu adalah risalah.

Mungkin karena itulah Ibrahim disebut sebagai umat.

Beliau tidak sekadar membangun sebuah keluarga saleh. Beliau tidak hanya berdakwah kepada satu kaum tertentu. Beliau juga tidak meletakkan dasar bagi satu bangsa tertentu.

Ibrahim memulai pembangunan manusia pembawa risalah, kemudian keluarga pembawa risalah, lalu masyarakat pembawa risalah. Dari keturunannya lahir para nabi yang melanjutkan estafet tersebut dari generasi ke generasi.

Apa yang dimulai oleh Ibrahim kemudian disempurnakan oleh Rasulullah ﷺ.

Karena itu umat Islam tidak lahir secara tiba-tiba pada masa Nabi Muhammad ﷺ. Ia merupakan hasil dari proses panjang yang dimulai sejak Ibrahim `alaihis salam dan diteruskan oleh para nabi setelahnya hingga mencapai bentuk yang sempurna melalui risalah penutup.

Ketika Al-Qur’an menyebut Ibrahim sebagai umat, mungkin yang sedang ditunjukkan bukan sekadar kemuliaan pribadi beliau.

Al-Qur’an sedang menunjukkan bahwa dalam diri Ibrahim telah terkumpul fondasi sebuah umat: risalah yang melampaui keluarga, suku, bangsa, dan generasi.

Beliau seorang diri, tetapi membawa misi yang akan menghubungkan manusia dari berbagai bangsa dan zaman dalam satu ikatan yang sama: ikatan risalah kepada Allah.

Tinggalkan Balasan