Manusia, Cita – Cita dan Makna Hidup

Suatu hari, ketika saya sedang aktif di akun Instagram, ada siaran langsung yang dibagikan oleh dua orang psikolog. Karena penasaran dengan percakapan mereka, akhirnya saya mengikuti obrolan ringan yang mereka adakan.

Dua psikolog itu ternyata berbicara tentang tujuan hidup manusia. Mereka membahas mengenai teori logotherapy.

Logoterapi merupakan istilah psikologi yang dikembangkan oleh Victor Frankl . Frankl adalah profesor di bidang neurologi dan psikologi di The University of Vienna Medical School. Logoterapi dikembangkan oleh Frankl setelah ia menjalani penahanan di kamp Nazi. Karena Frankl berasal dari keluarga Yahudi, maka semua keluarga Frankl ditangkap dan menjalani penyiksaan di kamp tersebut.

Selama di kamp penyiksaan, Frankl menyaksikan orang-orang di sekitarnya termasuk keluarganya mati. Sebelum itu, mereka sempat berbincang tentang apa yang akan mereka lakukan jika mereka bebas dari kamp tersebut. Namun semua orang di sana pesimis mereka akan bisa bertahan hidup. Kemudian Frankl mengatakan bahwa jika dia bebas, dia akan pergi ke kedai kopi yang sangat ingin dia kunjungi.

Tentu di posisi tersebut, sulit untuk bisa membayangkan pergi ke kedai kopi sedangkan mereka tinggal menunggu kapan giliran mereka untuk mati.

Saat Perang Dunia Kedua selesai, ternyata di antara semua tahanan hanya Frankl yang bertahan hidup.

Kemudian dari kisah tersebut, dua psikolog tadi mengatakan bahwa orang dengan tujuan hidup yang realistis memiliki harapan hidup lebih panjang. Dan semua orang mesti memahami apa tujuan hidup mereka. Dan ternyata di sesi diskusi, ada banyak orang yang mengatakan, “Saya belum tahu tujuan hidup saya.” “Saya tidak tahu apa yang mau saya lakukan di dunia ini.”

Jika kita melihat dengan worldview Islam, apakah makna adalah tujuan tertinggi hidup manusia? Dan apakah manusia diciptakan lalu dibiarkan hidup di dunia tanpa mengetahui tujuan penciptaan mereka?

Tujuan tertinggi manusia bukan menemukan makna, melainkan beribadah kepada Allah.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Sehingga makna dalam Islam bukanlah tujuan akhir, tetapi konsekuensi dari penghambaan.

Seseorang bisa saja hidup bermakna sesuai ukuran manusia. Ia menjadi guru, dokter, pejuang kemanusiaan, atau tokoh masyarakat. Namun jika seluruh aktivitas itu tidak dibangun di atas tauhid, maka ia belum mencapai tujuan penciptaannya.

Sebaliknya, seorang ibu yang mungkin dalam ukuran dunia dipandang biasa saja, tetapi mengasuh anak-anaknya karena Allah, sesungguhnya sedang menjalani tujuan hidup yang paling mendasar: menjadi hamba-Nya.

Salah satu kritik terhadap logoterapi adalah bahwa ia menggeser orientasi dari Allah kepada makna.

Dalam logoterapi, manusia mencari makna hidup. Sedangkan dalam Islam, manusia mencari ridha Allah.

Makna memang penting, tetapi ia bukan kiblat. Ia bukan tujuan yang berdiri sendiri. Makna yang sejati lahir ketika seseorang mengetahui siapa Rabb-nya, mengapa ia diciptakan, dan ke mana ia akan kembali.

Selain itu, Frankl menganggap bahwa setiap manusia memiliki makna unik yang harus ditemukan.

Sedangkan Islam mengakui adanya perbedaan tugas dan peran manusia, tetapi tujuan dasarnya sama: menyembah Allah, mentauhidkan-Nya, mencari ridha-Nya, dan mengikuti Rasulullah ﷺ.

Artinya, seorang muslim tidak perlu menciptakan tujuan hidupnya sendiri karena Allah sudah menetapkan tujuan tersebut.

Yang perlu dicari adalah bagaimana ia mewujudkan tujuan penghambaan itu dengan sebaik-baiknya.

Manusia adalah hamba Allah (‘abd), khalifah di muka bumi, makhluk yang diuji, dan kelak akan dihisab.

Jika seluruh problem manusia direduksi menjadi krisis makna, maka dimensi ubudiyah dan akhirat menjadi kabur. Islam memandang manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar pencari makna.

Bahkan dalam banyak keadaan, masalah terbesar manusia bukanlah kehilangan makna, melainkan kehilangan petunjuk. Ada orang yang hidupnya terasa kosong bukan karena tidak memiliki tujuan, tetapi karena jauh dari Allah. Ada yang memiliki cita-cita besar, pekerjaan yang ia cintai, keluarga yang baik, dan berbagai pencapaian duniawi, tetapi tetap merasakan kehampaan di hati mereka.

Mengapa?

Karena hati manusia tidak diciptakan untuk dipenuhi oleh tujuan-tujuan duniawi semata. Hati diciptakan untuk berpikir, mengenal dan mengingat Allah. Selama kebutuhan itu tidak terpenuhi, maka pencarian makna akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda-beda.

Hari ini seseorang mencari makna melalui karier. Ketika karier itu tercapai, ia mencari makna melalui pengakuan manusia. Setelah itu melalui keluarga. Setelah itu melalui pencapaian lain. Seolah selalu ada ruang kosong yang belum terisi.

Islam menjelaskan bahwa ruang kosong itu bukanlah ruang yang menunggu makna, melainkan ruang yang menunggu kehadiran iman.

Karena itu, pertanyaan seorang muslim seharusnya tidak berhenti pada, “Apa makna hidup saya?”

Tetapi melangkah lebih jauh:

“Apa yang Allah inginkan dari hidup saya?”

Sebab ketika pertanyaan kedua terjawab, maka makna akan mengikuti dengan sendirinya.

Dalam Islam, manusia tidak memulai hidup dalam keadaan tersesat lalu harus menciptakan tujuan hidupnya sendiri. Allah telah menjelaskan tujuan itu melalui wahyu-Nya. Yang menjadi perjuangan kita bukan menemukan tujuan hidup, melainkan menunaikan tujuan hidup yang telah Allah tetapkan.

Dan mungkin di situlah letak perbedaan paling mendasar antara logoterapi dan Islam.

Logoterapi mengajarkan bahwa manusia perlu menemukan makna agar dapat bertahan hidup. Sedangkan Islam mengajarkan bahwa manusia perlu mengenal Rabb-nya agar dapat menjalani hidup sebagaimana mestinya. Karena pada akhirnya, bukan semua yang bermakna akan mengantarkan manusia kepada keselamatan. Namun segala sesuatu yang dilakukan karena Allah akan selalu memiliki makna.

Tinggalkan Balasan