Ketika mendengar kata jahiliyyah, banyak orang langsung membayangkan masyarakat Arab sebelum Islam: penyembahan berhala, peperangan antarsuku, atau praktik mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Akibatnya, jahiliyyah sering dipahami sebagai sebuah periode sejarah yang telah berlalu.
Padahal Al-Qur’an memberikan gambaran yang jauh lebih mendalam. Jahiliyyah bukan sekadar keadaan masyarakat Arab sebelum Islam, melainkan sebuah cara pandang yang dapat muncul kapan saja dan di mana saja ketika manusia menjauh dari petunjuk Allah.
Malik bin Nabi’, menjelaskan:
“Ketika Islam memandang watsaniyah (berhalaisme) sebagai jahiliyyah, hal itu karena hakikat kejahilan adalah pemberhalaan. Kejahilan tidak menanam pemikiran, tetapi memancangkan berhala. Merupakan Sunnatullah yang berlaku pada makhluk ciptaan-Nya bahwa ketika pemikiran tenggelam maka akan muncul berhala.”
Pernyataan ini menggeser pemahaman kita tentang jahiliyyah. Hakikat jahiliyyah bukan sekadar ketiadaan ilmu, melainkan munculnya berhala.
Masalah terbesar manusia bukan karena ia tidak memiliki sesuatu untuk disembah, melainkan karena manusia selalu mencari sesuatu untuk disembah. Ketika wahyu tidak lagi menjadi petunjuk dan akal berhenti bekerja dengan benar, manusia akan menciptakan berhala.
Berhala tidak selalu berupa patung yang dipahat dari batu atau kayu. Berhala adalah segala sesuatu yang ditempatkan pada posisi yang seharusnya hanya milik Allah. Ia dapat berupa ideologi, tokoh, harta, kelompok, kekuasaan, bahkan diri sendiri.
Karena itulah Malik bin Nabi’ menyatakan bahwa jahiliyyah tidak menghasilkan pemikiran, tetapi menghasilkan berhala.
Menariknya, Al-Qur’an menyebut istilah jahiliyyah dalam empat bentuk yang berbeda:
1. Zhann al-Jahiliyyah (prasangka jahiliyyah)
2. Hukm al-Jahiliyyah (hukum jahiliyyah)
3. Tabarruj al-Jahiliyyah (tabarruj jahiliyyah)
4. Hamiyyah al-Jahiliyyah (fanatisme jahiliyyah)
Keempatnya menggambarkan bahwa jahiliyyah bukan sekadar penyembahan berhala secara fisik, melainkan kerusakan cara berpikir dan cara memandang kehidupan.
1. Zhann al-Jahiliyyah: Berhala dalam Prasangka
Allah Ta’ala berfirman:
“…Mereka berprasangka terhadap Allah dengan prasangka yang tidak benar seperti prasangka jahiliyyah…”
(QS. Ali ‘Imran: 154)
Ayat ini turun setelah Perang Uhud, ketika kaum muslimin mengalami kekalahan yang berat dan tujuh puluh sahabat gugur syahid, di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Mush’ab bin Umair.
Peristiwa tersebut menjadi momen Allah menyingkap isi hati manusia. Orang-orang beriman tetap menyandarkan diri kepada Allah, sedangkan orang-orang munafik mulai mempertanyakan takdir Allah dan kepemimpinan Rasulullah ﷺ.
Mereka berkata:
“Kalau kami memiliki andil dalam urusan ini, tentu kami tidak akan terbunuh di sini.”
Mereka mengetahui bahwa Allah ada. Mereka mengetahui bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Bahkan mereka berada di tengah barisan kaum muslimin. Namun cara berpikir mereka masih dipenuhi jahiliyyah.
Mereka melihat kekalahan dan menyimpulkan bahwa ketentuan Allah tidak membawa kebaikan. Seolah-olah rencana manusia lebih baik daripada takdir Allah.
Bukankah prasangka seperti ini masih sering muncul dalam kehidupan kita?
– Mengapa doaku belum dikabulkan?
– Jika Allah mencintaiku, mengapa musibah ini terjadi?
– Aku sudah beribadah, mengapa hidupku tetap berat?
Ketika takdir tidak sesuai harapan, seseorang mudah tergelincir kepada zhann al-jahiliyyah.
Padahal Allah menegaskan “Sesungguhnya segala urusan itu milik Allah.”
Bukan sebagian urusan, tetapi seluruh urusan.
Orang-orang munafik hanya melihat hasil akhir berupa kekalahan. Mereka tidak melihat hikmah besar yang Allah lahirkan melalui Perang Uhud: pemurnian iman, tersingkapnya kemunafikan, penghapusan dosa, dan pengangkatan derajat para syuhada.
Ayat ini mengajarkan bahwa salah satu bentuk jahiliyyah yang paling berbahaya adalah prasangka buruk kepada Allah.
2. Hukm al-Jahiliyyah: Berhala dalam Penentuan Kebenaran
Allah Ta’ala berfirman:
“Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang meyakini?”
(QS. Al-Ma’idah: 50)
Allah tidak berkata “Jangan mengikuti hukum jahiliyyah.”
Namun Allah bertanya: “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki?”
Pertanyaan ini mengandung celaan yang mendalam. Setelah datang wahyu dari Allah Yang Maha Mengetahui, mengapa manusia masih mencari standar lain?
Para ulama menjelaskan bahwa hukum jahiliyyah bukan sekadar hukum masyarakat Arab sebelum Islam. Ia mencakup setiap nilai, aturan, atau standar yang lahir dari hawa nafsu manusia dan dijadikan tandingan bagi petunjuk Allah.
Masyarakat jahiliyyah sebenarnya memiliki hukum dan aturan. Mereka memiliki adat, tradisi, dan sistem sosial. Namun persoalannya bukan ada atau tidak adanya aturan.
Persoalannya adalah: dari mana aturan itu berasal?
Ketika manusia menempatkan dirinya sebagai penentu halal dan haram, benar dan salah, tanpa merujuk kepada petunjuk Allah, maka pada saat itu ia telah menempatkan hawa nafsunya sebagai berhala.
3. Tabarruj al-Jahiliyyah: Berhala dalam Pandangan Manusia
Allah Ta’ala berfirman:
“…Dan janganlah kamu berhias serta bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang dahulu…”
(QS. Al-Ahzab: 33)
Kata tabarruj berasal dari kata buruj, yaitu sesuatu yang tampak menonjol.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa wanita jahiliyyah keluar rumah dengan menampakkan kecantikan dan perhiasan mereka untuk menarik perhatian laki-laki. Mereka berjalan dengan gaya yang memikat dan menjadikan kecantikan sebagai sarana memperoleh perhatian.
Di balik persoalan penampilan, terdapat persoalan yang lebih mendasar.
Jahiliyyah terjadi ketika ukuran kemuliaan bergeser dari takwa kepada perhatian manusia.
Ketika seseorang merasa bernilai karena dipuji, dilihat, atau dikagumi, maka sesungguhnya ia sedang menjadikan pandangan manusia sebagai berhala.
Karena itu, tabarruj al-jahiliyyah bukan hanya persoalan pakaian, tetapi persoalan orientasi hati.
4. Hamiyyah al-Jahiliyyah: Berhala dalam Fanatisme
Allah Ta’ala berfirman:
“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan, yaitu kesombongan jahiliyyah…”
(QS. Al-Fath: 26)
Ayat ini turun pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyah.
Kaum Quraisy menolak beberapa kalimat yang hendak ditulis dalam perjanjian, seperti:
Bismillahirrahmanirrahim
Muhammad Rasulullah
Mereka mengetahui siapa Muhammad ﷺ. Mereka mengenal kejujurannya. Namun mereka menolak karena fanatisme.
Mereka tidak lagi bertanya:
“Apakah ini benar?”
Tetapi:
“Siapa yang mengatakannya?”
Inilah hamiyyah al-jahiliyyah.
Dalam ayat yang sama, Allah memperlihatkan kontras yang sangat indah.
Kaum Quraisy dipenuhi fanatisme. Sedangkan Kaum mukmin dipenuhi sakinah.
Jahiliyyah melahirkan kemarahan, permusuhan, dan fanatisme.
Iman melahirkan ketenangan, kejernihan berpikir, dan kemampuan mengendalikan diri.
Allah tidak mengobati fanatisme jahiliyyah dengan fanatisme yang lain.
Allah mengobatinya dengan sakinah.
Jika keempat ayat ini dibaca secara utuh, kita akan menemukan bahwa Al-Qur’an tidak sedang berbicara tentang patung.
Yang dibahas Al-Qur’an adalah prasangka, hukum, penampilan, dan fanatisme.
Inilah yang dimaksud Malik bin Nabi’ ketika mengatakan bahwa hakikat jahiliyyah adalah pemberhalaan.
Berhala yang paling berbahaya bukanlah yang berdiri di atas tanah, melainkan yang berdiri di dalam hati.
Ia bisa berupa hawa nafsu, popularitas, kelompok, ideologi, kekuasaan, atau bahkan diri sendiri.
Karena itu, mempelajari jahiliyyah bukanlah mempelajari masa lalu semata.
Sebagaimana peringatan Umar bin Khattab:
“Sesungguhnya ikatan-ikatan Islam akan terurai satu demi satu apabila tumbuh dalam Islam generasi yang tidak mengenal jahiliyyah.”
Mengenali jahiliyyah berarti mengenali berbagai bentuk berhala yang terus berusaha mengambil tempat Allah dalam hati manusia.
Dan perjuangan seorang mukmin sepanjang hidupnya adalah memastikan bahwa tidak ada sesuatu pun yang menempati posisi tersebut selain Allah semata.
