Mengurai Jahiliyah (Bagian 1)

Dalam kitab Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyah mengutip perkataan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu:
«إنما تنقض عرى الإسلام عروة عروة إذا نشأ في الإسلام من لم يعرف الجاهلية»
“Sesungguhnya ikatan-ikatan Islam akan terurai satu demi satu apabila tumbuh dalam Islam generasi yang tidak mengenal jahiliyyah.”


Kalimat ini diucapkan Umar bin Khattab bukan ketika umat Islam sedang berada dalam masa kelemahan. Justru sebaliknya. Saat itu Islam sedang berada pada puncak kekuatannya. Kaum muslimin telah menaklukkan dua imperium besar dunia: Persia dan Romawi. Wilayah Islam meluas, kekuatan politik menguat, dan syariat ditegakkan.
Namun di tengah kejayaan itu, Umar justru mengingatkan tentang bahaya yang jauh lebih besar daripada serangan musuh dari luar.


Umar memiliki ketajaman fiqih dan firasat. Ia memahami Sunnatullah tentang bangkit dan runtuhnya sebuah peradaban. Keruntuhan suatu peradaban sering kali tidak dimulai ketika musuh datang menyerang dari luar, melainkan ketika generasi berikutnya tidak lagi memahami apa yang dahulu diperjuangkan dan diperangi.
Karena itulah ucapan Umar terasa begitu tajam hingga hari ini.


Seseorang bisa lahir sebagai muslim, tumbuh di lingkungan muslim, mengucapkan istilah-istilah Islam, bahkan membela Islam dengan lisannya. Namun pada saat yang sama, sebagian nilai jahiliyyah masih hidup dalam cara berpikirnya.
Dan ketika jahiliyyah tidak lagi dikenali, ia tidak akan ditolak.
Bahkan bisa jadi jahiliyyah itu dianggap sebagai bagian dari Islam, dihiasi dengan berbagai istilah yang indah, lalu diterima tanpa disadari.


Jahiliyyah bukan sekadar nama bagi suatu periode sejarah sebelum diutusnya Rasulullah ﷺ. Ia bersifat universal.Jahiliyyah adalah cara pandang yang dapat muncul kapan saja dan di mana saja. Ia tidak terikat oleh wilayah geografis maupun rentang waktu tertentu.
Makna ini dapat dipahami dari definisi yang disebutkan oleh Abu Ishaq Asy-Syirazi:
«تَصَوُّرُ الْمَعْلُومِ عَلَى خِلَافِ مَا هُوَ بِهِ»
“Membayangkan atau memahami sesuatu yang diketahui, namun tidak sesuai dengan hakikat sebenarnya.”
Definisi ini sangat dalam.
1. تَصَوُّر (Tashawwur)
Artinya adalah gambaran, persepsi, atau cara seseorang memahami sesuatu.
Fokusnya berada pada apa yang ada di dalam pikiran.
Ini menunjukkan bahwa jahiliyyah bermula dari cara pandang. Sebelum menjadi ucapan dan perbuatan, ia terlebih dahulu menjadi persepsi.
Karena itu, kerusakan sering kali tidak dimulai dari tindakan yang salah, melainkan dari cara memandang yang salah.
2. الْمَعْلُوم (Al-Ma’lum)
Artinya adalah sesuatu yang diketahui. Di sinilah letak keunikan definisi ini.Asy-Syirazi tidak mengatakan, “memahami sesuatu yang tidak diketahui.” Beliau justru mengatakan, “memahami sesuatu yang diketahui.”Artinya, orang yang jahil dalam definisi ini bukanlah orang yang tidak memiliki ilmu.Ia mungkin mengetahui sebuah peristiwaIa bahkan bisa jadi memiliki ilmu yang luas.
Namun pengetahuan yang dimilikinya tidak membawanya kepada pemahaman yang benar.
3. عَلَى خِلَافِ مَا هُوَ بِهِ
Artinya, tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.Di sinilah inti permasalahannya.Ilmunya ada, tetapi kesimpulannya keliru.Faktanya ada, tetapi cara membacanya salah.Pengetahuannya banyak, tetapi tidak mengantarkannya kepada kebenaran.Karena itu, lawan dari jahiliyyah bukan sekadar banyaknya il,u, melainkan pemahaman yang benar terhadap realitas berdasarkan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Salah satu contoh yang menarik dapat kita renungkan dari Surah Al-Fil.


Allah Ta’ala berfirman:
«أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ»
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?” (QS. Al-Fil: 1)
Mengapa Allah memulai surat ini dengan sebuah pertanyaan? Karena peristiwa tersebut bukan sesuatu yang asing bagi orang-orang Quraisy. Mereka mengetahui kisahnya. Sebagian dari mereka menyaksikannya secara langsung, sementara generasi setelahnya mendengarnya sebagai peristiwa yang sangat masyhur.Mereka mengetahui bagaimana Allah menghancurkan pasukan Abrahah yang datang hendak merobohkan Ka’bah. Mereka mengetahui bagaimana pasukan yang besar itu binasa oleh burung-burung yang Allah kirimkan secara berbondong-bondong. Mereka mengetahui kejadian tersebut.Mereka tidak mengingkarinya. Tetapi pengetahuan itu tidak mengantarkan mereka kepada keimanan.
Mereka melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dengan mata mereka, namun tetap menolak Rasulullah ﷺ ketika beliau datang membawa risalah.Mereka mengetahui peristiwanya, tetapi gagal memahami konsekuensinya.Mereka mengetahui ilmu, tetapi tidak sampai kepada hidayah.Inilah salah satu gambaran jahiliyyah sebagaimana yang dijelaskan para ulama: mengetahui sesuatu, namun memahaminya tidak sebagaimana hakikat yang sebenarnya.
Karena itu, masalah terbesar manusia sering kali bukan kurangnya ilmu, melainkan rusaknya cara pandang.


Dan mungkin di sinilah pentingnya perkataan Umar bin Khattab tadi.
Sebuah generasi harus mengenal jahiliyyah agar dapat mengenali dan menolaknya.Sebab seseorang tidak akan menjaga dirinya dari sesuatu yang tidak ia kenali.Dan ketika jahiliyyah tidak lagi dikenali, batas antara kebenaran dan kebatilan perlahan akan kabur. Pada saat itulah ikatan-ikatan Islam mulai terurai satu demi satu, sebagaimana yang dikhawatirkan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Tinggalkan Balasan