Penjajahan zionis Israel atas Palestina telah memasuki 79 tahun sejak peristiwa Nakba tahun 1948. Sebuah penjajahan panjang yang bukan hanya meninggalkan reruntuhan bangunan, tetapi juga luka sejarah, kehilangan generasi, dan resolusi jihad yang diwariskan dari satu masa ke masa berikutnya.
Allahuyarham Syaikh Ahmad Yassin dalam wawancaranya bersama Al Jazeera pada tahun 1999 pernah menyampaikan sebuah refleksi menarik tentang teori generasi dalam Al-Qur’an. Beliau menyebut bahwa berdasarkan sunnatullah pergiliran generasi, penjajahan Zionis atas Palestina akan berakhir pada empat puluh tahun kedua setelah Nakba dan Intifadah pertama tahun 1987, sebuah fase yang banyak dikaitkan dengan tahun 2027.
Hari ini, dunia mulai menyaksikan tanda-tanda perubahan itu. Dukungan terhadap Palestina semakin besar, bahkan di negeri-negeri Barat yang selama puluhan tahun menjadi basis dukungan politik Israel. Demonstrasi mahasiswa memenuhi jalanan kampus-kampus besar dunia. Akademisi, jurnalis, tokoh agama, hingga masyarakat umum mulai mempertanyakan narasi lama yang selama ini dibangun media arus utama.
Bagi seorang muslim, dukungan terhadap Palestina tentu tidak lahir semata-mata dari rasa kemanusiaan, tetapi dari konsekuensi aqidah dan ukhuwah Islamiyah. Palestina bukan wilayah konflik.
Ia adalah tanah para nabi, bumi yang diberkahi Allah, kiblat pertama kaum muslimin, dan tempat di mana jejak perjalanan Rasulullah ﷺ terhubung dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.Namun lebih dari itu, Palestina adalah tentang saudara kita sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda:“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”— HR. Muslim
Hadits ini seharusnya membuat kita berpikir bahwa anak-anak Palestina yang tubuhnya hancur oleh bom, yang kehilangan ayah dan ibunya, yang ketakutan di tengah malam karena suara rudal, mereka bukan “orang jauh” bagi seorang muslim. Mereka adalah anak-anak kita juga.Laki-laki yang ditangkap dan disiksa dalam penjara, perempuan yang direnggut kehormatannya, keluarga yang dirampas rumahnya, para penghafal Al-Qur’an yang syahid di reruntuhan rumah mereka adalah saudara kita. Luka mereka semestinya mengusik hati kita, sebagaimana luka saudara kandung kita sendiri.
Sayangnya, di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, masih banyak yang memahami Palestina hanya sebagai “konflik biasa”. Bahkan ada yang membenturkan isu Palestina dengan kondisi dalam negeri.Ketika masyarakat Indonesia ikut terlibat dalam pelayaran kemanusiaan Global Sumud Flotilla, lalu sembilan WNI diculik Israel di perairan internasional, masih muncul komentar seperti:“Ngapain ngurusin negara orang? Negara sendiri aja masih banyak yang susah.”Atau narasi lain yang sering muncul:“ Jauh-jauh bela Palestina, padahal Papua masih kesusahan.”Sekilas terdengar logis. Namun jika ditelaah dengan ilmu mantiq dan logika, cara berpikir seperti ini justru mengandung banyak logical fallacy yaitu kesalahan berpikir yang membuat seseorang sampai pada kesimpulan yang keliru.
Seseorang gagal menyusun hubungan yang benar antara premis dan kesimpulan. Sesuatu yang tampak rasional belum tentu benar secara logika.
1. False Dilemma : Dikotomi Palsu
Kesalahan pertama adalah false dilemma, yaitu menggambarkan seolah kita hanya boleh memilih satu dari dua pilihan. Narasi “pilih Palestina atau Papua” membangun kesan bahwa ketika seseorang peduli Palestina, maka otomatis ia tidak peduli Papua. Padahal kepedulian manusia bukan sistem kuota.Islam sendiri tidak pernah mengajarkan empati yang sempit. Rasulullah ﷺ membantu tetangga, memperhatikan fakir miskin, menyantuni anak yatim, namun di saat yang sama juga memikirkan kondisi umat secara luas. Seseorang bisa membantu korban bencana di Indonesia sekaligus mendukung perjuangan Palestina. Masalahnya bukan pada kepedulian terhadap Palestina, tetapi pada cara berpikir yang keliru seolah kemanusiaam harus saling meniadakan.
2. Whataboutism : Pengalihan IsuNarasi “tapi Papua?” juga termasuk bentuk whataboutism, yaitu mengalihkan pembahasan dengan menunjuk isu lain agar isu utama kehilangan fokus.Ketika penjajahan, blokade, pembunuhan anak-anak, dan penculikan relawan kemanusiaan dibahas, lalu seseorang menjawab “Papua juga susah”, maka sebenarnya ia tidak sedang menjawab isu Palestina maupun Papua. Ia hanya menggeser arah pembicaraan.Lebih ironis lagi, sering kali Papua baru dibicarakan ketika Palestina dibahas. Seolah Papua hanya dijadikan alat retorika untuk meredam empati terhadap Palestina, bukan benar-benar diperjuangkan.Padahal jika memang peduli Papua, maka pembelaan terhadap hak hidup, pendidikan, kesehatan, dan keadilan di Papua seharusnya diperjuangkan setiap waktu, bukan hanya saat ingin mendeligitimasi dukungan terhadap Palestina.
3. False Equivalence : Penyetaraan yang Keliru
Kesalahan berikutnya adalah menyamakan dua persoalan berbeda secara mentah.Palestina adalah wilayah yang secara internasional diakui berada di bawah pendudukan (penjajahan) Israel. Tidak ada penjajahan yang sah di bumi manapun. Gaza mengalami blokade bertahun-tahun yang membatasi akses makanan, listrik, obat-obatan, bahkan air bersih.Sedangkan Papua memiliki konteks sejarah, politik, dan sosial yang berbeda. Membicarakan Papua membutuhkan pembahasan tersendiri yang adil dan mendalam, bukan sekadar dijadikan “alat pembanding” agar orang berhenti membela Palestina.Menyamakan dua persoalan berbeda tanpa memahami konteksnya adalah bentuk penyederhanaan berpikir yang berbahaya.
4. Red Herring : Mengaburkan FokusKetika pembahasan tentang kejahatan perang Israel dialihkan menjadi “masih banyak rakyat Indonesia miskin”, maka fokus terhadap tindakan kezaliman menjadi kabur.
Maka berbicara tentang Palestina bukan sekadar membahas politik internasional, tetapi juga menjalankan tanggung jawab moral untuk menentang kezaliman. Dan setiap dari kita akan dimintai pertanggungjawaban atas sikap dan upaya kita terhadap kemerdekaan Palestina.
Yang paling mengkhawatirkan sebenarnya bukan hanya kesalahan logika, tetapi matinya solidaritas sebagai umat muslim. Padahal setiap kita melakukan scrolling, kita dengan mudah menyaksikan anak-anak terbunuh dapat disaksikan langsung dari layar ponsel. Rumah sakit dibom. Seorang dokter dipaksa keluar dari rumah sakit tempat ia mengurusi pasiennya, dan untuk membuatnya keluar tentara zionis tersebut harus mengerahkan banyak tank. Rakyat Palestina ditembaki saat membawa tepung dan makanan. Bahkan relawan kemanusiaan ditangkap, disiksa dengan keji. Namun sebagian manusia justru sibuk mencari alasan agar tidak perlu peduli. Padahal seorang muslim tidak dibangun di atas sikap individualistik. Islam membangun umat di atas ukhuwah. Kita disatukan bukan oleh suku, bangsa, atau warna kulit, tetapi oleh iman.
Karena itu Palestina bukan sekadar isu “orang Arab”. Palestina adalah persoalan umat. Persoalan tentang apakah hati kita masih hidup ketika melihat saudara kita dijajah dan dibantai. Dan di sinilah pentingnya memahami logical fallacy. Sebab kesalahan berpikir yang terus diulang akhirnya dapat melahirkan kesalahan sikap. Ketika kezaliman dianggap biasa karena terlalu sering dilihat, maka yang runtuh bukan hanya logika manusia, tapi iman dan kemanusiaannya.
