Mendidik Anak Dari Sumur, Kasur, dan Dapur

Ketika membaca pembahasan tentang para ibu, khususnya pada bagian sumur, kasur, dan dapur, saya teringat pada sebuah video seorang ibu yang merekam aktivitasnya sebagai masinis kereta. Di kolom komentar, banyak perempuan menuliskan bahwa mereka ingin memiliki karier serupa agar anak-anak mereka bangga menyambut ibunya pulang bekerja. Seolah mereka malu jika anaknya hanya melihat ibunya di rumah dan akan lebih bangga jika ibunya seperti yang mereka lihat di video tersebut.


Fenomena ini menarik untuk direnungkan. Di satu sisi, para perempuan ingin keputusan mereka untuk bekerja dihormati. Namun di sisi lain, tidak sedikit pula yang justru merendahkan perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga. Bahkan belakangan muncul anggapan bahwa menjadi ibu rumah tangga tidak masalah asalkan tetap menghasilkan uang dan memiliki kemandirian finansial.


Padahal, dalam Islam perempuan tidak pernah dibebani kewajiban nafkah. Baik sebagai anak, istri, maupun janda, Allah Ta’ala menetapkan adanya pihak yang bertanggung jawab menanggung kebutuhan hidup mereka. Karena itu, menjadikan “produktivitas ekonomi” sebagai satu-satunya ukuran kemuliaan perempuan sesungguhnya lahir dari cara pandang peradaban modern yang mengukur nilai manusia berdasarkan pasar dan materi.


Sayangnya, hari ini kita hidup di tengah peradaban yang secara perlahan memaksa perempuan keluar dari rumah, seolah-olah kontribusi hanya bernilai jika terlihat di ruang publik. Padahal Allah Ta’ala menjadikan rumah sebagai medan amal yang agung bagi perempuan. Banyak muslimah merasa bahwa membangun peradaban harus dimulai dari luar rumah, dari mimbar, kantor, atau panggung-panggung sosial. Padahal sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar justru lahir dari rumah-rumah yang diisi oleh ibu-ibu yang mendidik generasi dengan iman, ilmu, dan adab.


Peradaban tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang berdiri di depan layar atau podium. Peradaban juga dibangun oleh tangan-tangan yang menyiapkan makanan halal, oleh ibu yang mengajarkan kebersihan kepada anaknya, oleh perempuan yang menjaga fitrah keluarganya. Dari sanalah lahir generasi yang kuat, generasi berizzah.Dan semua itu bisa dimulai dari: sumur, kasur, dan dapur.


Dari sumur, para ibu mengajarkan anak-anak tentang kesucian dan kebersihan. Mereka mengenalkan mana air yang dapat mensucikan dan mana yang tidak, mengajarkan cara bersuci, istinja, serta pentingnya menjaga kebersihan diri. Bukankah hari ini persoalan kebersihan masih menjadi tantangan besar di negeri kita? Dari ruang sederhana itu pula, ibu dapat mengenalkan konsep aurat kepada anak-anaknya. Hari ini banyak kampanye tentang batas tubuh dengan berbagai istilah modern seperti “jangan sentuh ini” atau “jangan sentuh itu”. Padahal Islam telah lama memiliki konsep penjagaan tubuh yang utuh dan komprehensif melalui pemahaman tentang aurat, adab pergaulan, dan penjagaan kehormatan diri.


Dari dapur, para ibu menentukan apa yang masuk ke dalam tubuh anak-anak mereka. Mereka memilih mana yang halal dan mana yang haram. Sebagaimana disebutkan dalam pembahasan tentang generasi izzah, salah satu sebab hadirnya kemuliaan adalah membersihkan diri dari yang haram. Maka dapur bukan sekadar tempat memasak, melainkan tempat lahirnya generasi yang dijaga makanannya, diperhatikan gizinya, dan dibesarkan dengan keberkahan.Sebab generasi yang kuat tidak hanya dibentuk oleh pendidikan yang tinggi, tetapi juga oleh makanan yang halal dan baik yang tumbuh bersama darah dan tubuh mereka sejak kecil.


Dan dari kasur, Islam bahkan mengajarkan adab dalam hubungan suami istri. Ada doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar jika Allah mentakdirkan lahirnya keturunan dari hubungan tersebut, maka anak itu dijauhkan dari gangguan setan.Betapa indahnya Islam. Bahkan sejak awal proses penciptaannya, seorang anak telah dipayungi doa dan penjagaan. Dari tempat tidur pula anak-anak kelak belajar adab sebelum tidur: membaca doa, membersihkan tempat tidur, serta memohon perlindungan Allah dari gangguan setan.


Maka benar apa yang dikatakan Sayyid Quthb dalam pengantar buku Kerugian Dunia Akibat Kemunduran Islam: dunia membutuhkan orang-orang yang mampu mengembalikan rasa percaya diri kaum mukmin terhadap syariat Islam.Dan hari ini, kita juga membutuhkan para ibu yang percaya diri menjalankan syariatnya. Para ibu yang tidak merasa rendah hanya karena memilih membangun peradaban dari rumahnya sendiri. Sebab boleh jadi, kebangkitan generasi itu justru dimulai dari rumah-rumah sederhana, yaitu dari sumur, kasur, dan dapur.

Tinggalkan komentar