Bagaimana Rasulullah Menyikapi Kesalahan (Bagian 2)

Pada tulisan bagian pertama, telah dijelaskan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan seseorang melakukan kesalahan adalah al-jahl (ketidaktahuan). Karena itu, ketika akar kesalahan adalah ketidaktahuan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan ilmu dan pengajaran daripada memarahi. Faktor kedua adalah al-khauf (rasa takut). Salah satu contohnya adalah kisah Hatib bin Abi Balta'ah radhiyallahu 'anhu menjelang Fathu Makkah. Ketika itu RasulullahLanjutkan membaca "Bagaimana Rasulullah Menyikapi Kesalahan (Bagian 2)"

Bagaimana Rasulullah Menyikapi Kesalahan (Bagian 1)

Guru-guru saya sering berkata bahwa salah satu tanda kiamat dunia pendidikan adalah ketika para gurunya berhenti belajar. Karena itu, sesibuk apa pun seorang guru, kesibukan tersebut tidak seharusnya menghentikannya dari proses belajar. Termasuk belajar metode mengajar. Termasuk belajar memahami murid. Dan termasuk belajar bagaimana menyikapi kesalahan murid. Guru terbaik untuk mempelajari semua itu tentu sajaLanjutkan membaca "Bagaimana Rasulullah Menyikapi Kesalahan (Bagian 1)"

Tokoh yang Terlewat dari Bab Sidang Dasar Negara

2 pekan yang lalu, sebagaimana tahun-tahun yang lalu, kita memperingati Hari Lahir Pancasila. Membahas soal sejarah Pancasila, selama 12 tahun kita belajar di sekolah, selama itu pula kita diajarkan bahwa perumus dasar negara ada tiga orang: Mohammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno. Padahal negeri ini pada masa itu memiliki begitu banyak cendekiawan Muslim. Ada KH. AgusLanjutkan membaca "Tokoh yang Terlewat dari Bab Sidang Dasar Negara"

Ayat yang Membuat Sayyidah Aisyah Menangis

Sebenarnya bagi generasi salaf, menangis saat membaca Al-Qur'an adalah habit (kebiasaan). Sedangkan bagi kita, menangis saat membaca Al-Qur'an belum menjadi hal yang biasa. Karena itu ketika mendengar ada orang yang menangis saat membaca Al-Qur'an, atau seorang imam terisak ketika membaca suatu ayat dalam shalat, kita buru-buru ingin mengetahui ayat apa yang sedang dibacanya. Namun ada sesuatu yangLanjutkan membaca "Ayat yang Membuat Sayyidah Aisyah Menangis"

Ketika Ibrahim ‘Alaihissalam Disebut Sebagai Umat

Ketika membaca surat An-Nahl ayat 120, saya sempat berhenti cukup lama untuk memahami ayat tersebut : إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ Artinya: "Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang umat (imam) yang dapat dijadikan teladan, lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)." Saya bertanya-tanya,Lanjutkan membaca "Ketika Ibrahim ‘Alaihissalam Disebut Sebagai Umat"

Manusia, Cita – Cita dan Makna Hidup

Suatu hari, ketika saya sedang aktif di akun Instagram, ada siaran langsung yang dibagikan oleh dua orang psikolog. Karena penasaran dengan percakapan mereka, akhirnya saya mengikuti obrolan ringan yang mereka adakan. Dua psikolog itu ternyata berbicara tentang tujuan hidup manusia. Mereka membahas mengenai teori logotherapy. Logoterapi merupakan istilah psikologi yang dikembangkan oleh Victor Frankl .Lanjutkan membaca "Manusia, Cita – Cita dan Makna Hidup"

Mengurai Jahiliyah (Bagian 2)

Ketika mendengar kata jahiliyyah, banyak orang langsung membayangkan masyarakat Arab sebelum Islam: penyembahan berhala, peperangan antarsuku, atau praktik mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Akibatnya, jahiliyyah sering dipahami sebagai sebuah periode sejarah yang telah berlalu. Padahal Al-Qur'an memberikan gambaran yang jauh lebih mendalam. Jahiliyyah bukan sekadar keadaan masyarakat Arab sebelum Islam, melainkan sebuah cara pandang yang dapatLanjutkan membaca "Mengurai Jahiliyah (Bagian 2)"

Mengurai Jahiliyah (Bagian 1)

Dalam kitab Majmu' al-Fatawa, Ibnu Taimiyah mengutip perkataan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu:«إنما تنقض عرى الإسلام عروة عروة إذا نشأ في الإسلام من لم يعرف الجاهلية»"Sesungguhnya ikatan-ikatan Islam akan terurai satu demi satu apabila tumbuh dalam Islam generasi yang tidak mengenal jahiliyyah." Kalimat ini diucapkan Umar bin Khattab bukan ketika umat Islam sedang berada dalamLanjutkan membaca "Mengurai Jahiliyah (Bagian 1)"

Logical Fallacy Dalam Narasi Papua vs Palestina

Penjajahan zionis Israel atas Palestina telah memasuki 79 tahun sejak peristiwa Nakba tahun 1948. Sebuah penjajahan panjang yang bukan hanya meninggalkan reruntuhan bangunan, tetapi juga luka sejarah, kehilangan generasi, dan resolusi jihad yang diwariskan dari satu masa ke masa berikutnya. Allahuyarham Syaikh Ahmad Yassin dalam wawancaranya bersama Al Jazeera pada tahun 1999 pernah menyampaikan sebuahLanjutkan membaca "Logical Fallacy Dalam Narasi Papua vs Palestina"

Mendidik Anak Dari Sumur, Kasur, dan Dapur

Ketika membaca pembahasan tentang para ibu, khususnya pada bagian sumur, kasur, dan dapur, saya teringat pada sebuah video seorang ibu yang merekam aktivitasnya sebagai masinis kereta. Di kolom komentar, banyak perempuan menuliskan bahwa mereka ingin memiliki karier serupa agar anak-anak mereka bangga menyambut ibunya pulang bekerja. Seolah mereka malu jika anaknya hanya melihat ibunya diLanjutkan membaca "Mendidik Anak Dari Sumur, Kasur, dan Dapur"