Guru dan Ruh yang Tidak Bisa Diunduh

Di tengah teknologi yang semakin canggih dan kecerdasan buatan yang dapat melakukan banyak hal, orang-orang mulai membuat daftar profesi yang kemungkinan akan tergantikan dalam lima atau sepuluh tahun mendatang.
Daftarnya panjang.
Ada penerjemah, penulis, ilustrator, akuntan, petugas layanan pelanggan, bahkan dokter. Biasanya daftar itu dibuat oleh orang-orang yang pekerjaannya tidak masuk ke dalam daftar. Karena memang selalu lebih mudah membicarakan hilangnya pekerjaan orang lain.


Salah satu profesi yang disebut-sebut akan tergantikan adalah guru.
Muncullah pertanyaan yang belakangan cukup sering dibicarakan: mungkinkah pertumbuhan teknologi yang begitu pesat akhirnya menggantikan peran guru?
Pertanyaan itu sebenarnya bukan barang baru.


Lebih dari seratus tahun lalu, ketika teknologi gambar bergerak mulai berkembang, Thomas Alva Edison pernah memperkirakan bahwa buku akan segera menjadi barang usang di sekolah. Menurutnya, murid-murid kelak akan memperoleh pengetahuan melalui mata karena hampir seluruh cabang ilmu dapat diajarkan melalui film.


Ia bahkan memperkirakan sistem pendidikan akan berubah seluruhnya dalam waktu sepuluh tahun dan akan menggantikan guru – guru yang tidak berkualitas.


Itu dikatakan pada 1913.

Lebih dari seratus tahun telah berlalu. Film memang masuk ke ruang kelas. Guru menggunakannya untuk memperlihatkan gunung meletus, peredaran darah, kehidupan hewan di dasar laut, atau proses metamorfosis kupu-kupu tanpa harus membawa benda – benda sungguhan ke dalam kelas.

Namun, buku tidak menghilang.
Guru juga masih ada.


Kemudian datanglah radio. Setelah itu televisi. Lalu komputer, internet, mesin pencari, YouTube, kelas daring, dan sekarang kecerdasan buatan/AI.
Setiap kali sebuah teknologi baru muncul, selalu ada orang yang dengan penuh keyakinan mengumumkan bahwa pendidikan tidak akan pernah sama lagi.

Mereka tidak sepenuhnya keliru.
Pendidikan memang berubah.

Hari ini, seorang anak dapat menanyakan hampir semua hal kepada AI.

Ia dapat meminta penjelasan tentang pecahan dengan bahasa anak berusia tujuh tahun. Kalau belum paham, ia bisa meminta penjelasan lain. Kalau masih belum paham, ia dapat meminta contoh menggunakan potongan pizza, buah apel, kue ulang tahun, atau benda apa pun yang disukainya.

AI tidak akan kehabisan kesabaran.
Ia tidak akan menghela napas panjang lalu berkata, “kan tadi Ibu sudah menjelaskan. Kamu mendengarkan tidak?”

Dalam beberapa hal, AI bahkan mungkin tampak lebih menyenangkan daripada guru.
Ia dapat menjawab pertanyaan kapan saja, tidak perlu tidur siang, tidak perlu makan, tidak punya masalah rumah tangga, dan tidak pernah berusaha mengondisikan perasaan agar tidak datang ke kelas dengan wajah kusut.

Sebagai seorang guru, kenyataan ini tentu agak mengkhawatirkan.
Mesin tidak hanya pintar. Ia juga tidak pernah terlambat mengumpulkan administrasi.

AI dapat membuat rancangan pembelajaran dalam hitungan detik. Ia dapat menyusun dua puluh soal pilihan ganda lengkap dengan kunci jawabannya sebelum seorang guru selesai mengaduk kopi. Ia dapat membuat ilustrasi, merangkum buku, memeriksa tata bahasa, menerjemahkan teks, dan menawarkan sepuluh variasi kegiatan belajar.

Kalau pekerjaan guru hanya menyampaikan informasi, sebenarnya guru tidak perlu menunggu AI untuk merasa terancam.
Sejak perpustakaan pertama didirikan, sebagian pekerjaan itu sudah dapat digantikan oleh buku. Sejak internet masuk ke rumah-rumah, murid dapat menemukan penjelasan dari profesor terbaik tanpa harus mengenal nama guru yang mengajar di kelasnya.

Lalu, apa yang membuat seorang guru tetap diperlukan?

Barangkali jawabannya bukan terletak pada seberapa banyak informasi yang ia miliki.
Sebab dalam urusan menyimpan informasi, manusia memang tidak akan menang melawan mesin.


Bahkan setiap saya mengisi survey, untuk mengidentifikasi apakah yang mengisi survey tersebut adalah benar – benar manusia selalu ada pertanyaan “apakah anda bisa mengingat seluruh nama di danau di seluruh dunia di luar kepala anda?”
“apa anda mengingat seluruh kejadian saat anda berusia sebelum 2 tahun?”


Seorang guru bisa lupa tanggal sebuah peristiwa. Ia bahkan bisa mencari spidol yang baru saja ia letakkan.


Mesin jarang mengalami persoalan semacam itu.

Yang membedakan guru dari bukan guru adalah ruhnya.
Ruh di sini bukan sesuatu yang kabur atau sekadar kata indah untuk ditempelkan dalam seminar pendidikan. Ruh seorang guru tampak dalam niat yang dibawanya ketika memasuki kelas, caranya memandang murid, kesediaannya memahami, keteladanannya, kesabarannya, dan rasa tanggung jawabnya di hadapan Allah.

Ruh itulah yang membuat guru tidak hanya bertanya, “Apakah materi hari ini sudah selesai?”
Ia juga bertanya, “Apakah anak ini bisa memahami dengan baik? apakah berdampak pada hatinya?”

Sebuah mesin dapat mencatat bahwa seorang anak tidak menyelesaikan tugas. Guru dapat mengetahui apa yang menyebabkan anak ini tidak menyelesaikan tugas dengan baik.

Mesin dapat mendeteksi bahwa seorang murid diam sepanjang pelajaran. Guru berusaha membedakan apakah ia diam karena sudah memahami, karena belum memahami, atau karena takut berbicara.

Mesin dapat menghitung berapa kali seorang anak meninggalkan tempat duduk. Guru dapat melihat bahwa di balik tubuh yang tidak berhenti bergerak itu terdapat energi besar yang belum disalurkan.

Mesin dapat memberi tanda merah pada bentuk huruf yang keliru. Guru mengetahui bahwa anak tersebut telah mengerahkan kemampuannya hanya untuk memegang pensil dan mencoba menulis satu kata.

Di situlah pekerjaan guru menjadi lebih rumit daripada menyampaikan pelajaran.

Guru berhadapan dengan manusia. Sedangkan manusia tidak datang ke sekolah hanya dengan membawa otak. Ia membawa perasaan, pengalaman, kegembiraan, ketakutan, keadaan rumah, kebiasaan, luka, serta doa-doa orang tuanya.

Semua itu ikut duduk bersamanya di dalam kelas.
Karena itulah, dalam pendidikan Islam, mengajar tidak pernah hanya berarti memindahkan pengetahuan dari kepala guru menuju kepala murid.

Allah menggambarkan tugas Rasulullah ﷺ tidak hanya dengan kata yu‘allimuhum—mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah—tetapi juga yuzakkīhim: menyucikan dan menumbuhkan jiwa mereka.
“Dia membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah.”
(QS Al-Jumu‘ah: 2)

Ada pengajaran ilmu. Ada pula penyucian jiwa.
Ada pengetahuan yang diterangkan. Ada adab yang dicontohkan.
Ada kata-kata yang disampaikan melalui lisan. Ada keadaan hati yang turut mendidik.

Seorang anak tidak hanya belajar tentang kejujuran dari definisi yang dituliskan di papan. Ia juga belajar dari gurunya yang mengakui bahwa ia salah menghitung nilai.

Anak tidak hanya belajar kasih sayang dari sebuah cerita. Ia mempelajarinya ketika melihat gurunya tidak mempermalukan teman yang belum mampu membaca atau salah menjawab.

Anak tidak hanya belajar tentang kesabaran dari nasihat. Ia melihatnya ketika harus bertanya untuk ketiga kalinya dan gurunya masih bersedia menjelaskan tanpa membuatnya merasa bodoh.

Inilah wilayah pendidikan yang tidak cukup dikerjakan dengan jawaban yang benar.
Ia membutuhkan kehadiran.
Ia membutuhkan keteladanan.
Ia membutuhkan hubungan antarmanusia.
Lebih jauh lagi, seorang guru membawa sesuatu yang tidak tercatat dalam laporan pembelajaran: doa.

Bisa jadi sepulang mengajar, seorang guru masih mengingat anak yang hari itu kesulitan fokus. Ia menyebut nama anak itu dalam doanya. Ia memohon agar Allah melembutkan hatinya, memudahkan belajarnya, menjaga keluarganya, dan menjadikannya anak yang saleh.

Tidak ada kolom dalam administrasi sekolah untuk mencatat hal semacam ini.
Tidak ada pula angka yang dapat mengukur pengaruhnya.
Namun, boleh jadi justru dari sanalah keberkahan pendidikan datang.

AI dapat menyusun kalimat doa. Ia dapat mencarikan doa dari Al-Qur’an dan hadis, menuliskan teks Arabnya, menerjemahkannya, bahkan menjelaskan kandungannya.

Tetapi AI tidak sedang berdiri pada malam hari dengan hati yang mengkhawatirkan seorang murid.

Ia tidak memikul amanah.
Ia tidak berharap bertemu Allah dengan membawa kesaksian bahwa dirinya pernah berusaha menjaga anak-anak yang dipercayakan kepadanya.

Di situlah letak ruh seorang guru.

Namun, teknologi juga sedang memberikan teguran yang cukup keras kepada para guru.
Jika selama ini guru hanya masuk kelas, membacakan buku, meminta murid mencatat, lalu memberikan soal, maka sebagian besar pekerjaannya memang dapat digantikan.

Bukan karena AI telah menjadi manusia.
Melainkan karena sang guru telah lama bekerja seperti mesin.
Karena itu, pertanyaan pentingnya mungkin bukan, “Apakah AI akan menggantikan guru?”
Pertanyaannya adalah, “Bagian mana dari diri seorang guru yang memang tidak dapat digantikan?”

Jawabannya bukan kemampuan menghafal lebih banyak informasi. Bukan pula kemampuan membuat soal sebanyak-banyaknya.
Jawabannya adalah ruh yang menghidupkan ilmu.

Ruh itulah yang membuat pelajaran tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi iman, adab, keberanian, tanggung jawab, dan cara memandang kehidupan.

Suatu hari, AI mungkin dapat menjelaskan sebuah pelajaran dengan lebih runtut daripada kita. Ia mungkin dapat menemukan kesalahan seorang murid lebih cepat daripada kita. Ia bahkan mungkin dapat memberikan kata-kata penyemangat yang terdengar lebih indah daripada kata-kata kita.

Namun, ketika seorang anak yang berbulan-bulan kesulitan menulis akhirnya berhasil menuliskan namanya sendiri, AI mungkin hanya dapat menyatakan bahwa tulisan itu benar.
Gurunya mengetahui betapa keras usaha yang diperlukan anak itu untuk sampai ke sana.

Mesin membaca hasilnya.
Guru menyaksikan perjuangannya.
Mesin berkata, “Jawabanmu benar.”
Sedangkan guru, dengan mata yang mungkin mulai menghangat, berkata:
“Masya Allah, Alhamdulillah.”


Barangkali, di antara kata “benar” dan “Masya Allah, Alhamdulillah” itulah ruh seorang guru berada.

Tinggalkan Balasan