Karena Mereka Adalah Umat Rasul

Ketika mengikuti perkuliahan Akademi Keluarga sekitar dua tahun lalu, Kiai Budi Ashari bercerita tentang pengalaman beliau bersama istrinya saat melakukan perjalanan dengan kereta.

Di dalam kereta itu, ada seorang anak yang menangis. Namun, sang ibu membiarkan dan mendiamkannya. Dalam pandangan saya, mungkin ibu tersebut sedang menerapkan metode time-out: membiarkan anak menangis hingga ia mampu menenangkan dirinya sendiri.

Namun, Kiai kemudian mengatakan, “Saya tidak peduli ibu itu mengikuti metode parenting apa. Tetapi saya tidak rida, karena anak itu adalah umat Rasul. Saya tidak rida umat Rasul diperlakukan seperti itu.”

Kalimat itu sangat membekas dalam diri saya.

Sebab, ketika kita menyadari bahwa anak-anak biologis maupun anak-anak didik kita adalah umat Rasulullah ﷺ, kita akan jauh lebih berhati-hati ketika mendidik mereka. Kita akan mempertimbangkan kembali metode yang kita gunakan, cara kita menegur, kata-kata yang kita pilih, bahkan mimik wajah yang kita tunjukkan kepada mereka.

Kita tidak lagi hanya bertanya, “Apakah cara ini efektif membuat anak menurut?”

Namun, kita juga bertanya, “Pantaskah umat Rasul diperlakukan seperti ini?”

Kesadaran bahwa mereka adalah umat Rasul tidak berarti kita harus membiarkan segala kesalahan. Anak tetap perlu diarahkan. Perilaku yang keliru tetap harus diluruskan. Batas tetap harus ditegakkan. Akan tetapi, semua itu dilakukan tanpa merendahkan, mempermalukan, atau melukai harga dirinya.

Anak yang melakukan kesalahan tetaplah umat Rasul.

Anak yang belum mampu mengendalikan emosinya tetaplah umat Rasul.

Anak yang lambat membaca, sulit duduk tenang, berulang kali melanggar aturan, atau membutuhkan waktu lebih panjang untuk memahami pelajaran tetaplah umat Rasul.

Mereka bukan sekadar objek dari metode pendidikan yang sedang kita pelajari. Mereka bukan angka di dalam laporan perkembangan. Mereka bukan masalah yang harus segera diselesaikan agar pekerjaan kita menjadi lebih mudah. Mereka adalah jiwa-jiwa yang Allah titipkan, yang sedang bertumbuh, dan yang kelak akan membawa kenangan tentang bagaimana orang-orang dewasa memperlakukan mereka.

Bisa jadi mereka melupakan materi yang pernah kita ajarkan. Bisa jadi mereka tidak lagi mengingat lembar kerja yang pernah kita berikan. Namun, tubuh dan hati mereka mungkin akan terus mengingat bagaimana suara kita meninggi ketika mereka melakukan kesalahan, bagaimana wajah kita berubah ketika mereka tidak mampu memenuhi harapan, atau bagaimana mereka dibiarkan sendirian ketika belum mengerti cara menenangkan dirinya.

Sebaliknya, mereka juga akan mengingat siapa yang bersedia merendahkan tubuh untuk berbicara sejajar dengan mata mereka. Siapa yang menunggu dengan sabar ketika mereka kesulitan mengucapkan kata-kata. Siapa yang menegur tanpa mempermalukan. Siapa yang tetap membuat mereka merasa dicintai meskipun perilakunya sedang tidak dapat dibenarkan.

Kesadaran itu semestinya tidak berhenti kepada anak-anak.

Sebab orang-orang dewasa yang hidup bersama kita pun adalah umat Rasul.

Suami atau istri kita adalah umat Rasul. Orang tua kita adalah umat Rasul. Teman kerja kita adalah umat Rasul. Orang yang berbeda pandangan dengan kita adalah umat Rasul. Bahkan orang yang pernah mengecewakan dan melukai hati kita pun masih termasuk umat Rasul.

Jika kesadaran itu benar-benar hidup, kita akan lebih berhati-hati menjaga lisan. Kita akan menimbang kata sebelum mengucapkannya. Kita tidak akan mudah menjadikan kekurangan seseorang sebagai bahan percakapan, lalu memindahkannya dari satu telinga kepada telinga yang lain. Kita tidak akan merasa berhak merendahkan seseorang hanya karena kita sedang marah atau kecewa kepadanya.

Sebab yang sedang kita bicarakan bukan sekadar “orang lain”.

Ia adalah seseorang yang mengucapkan syahadat yang sama dengan kita. Seseorang yang menghadap kiblat yang sama. Seseorang yang kita harapkan kelak memperoleh syafaat dari Rasul yang sama.

Memandang seseorang sebagai umat Rasul tidak membuat kita kehilangan kemampuan untuk menilai benar dan salah. Kesalahan tetaplah kesalahan. Kezaliman tetap harus dicegah. Nasihat tetap perlu disampaikan. Akan tetapi, kita akan belajar membedakan antara meluruskan perbuatan dan meruntuhkan kehormatan seseorang.

Kita dapat menegur tanpa menghina.

Kita dapat kecewa tanpa menggunjing.

Kita dapat berbeda pendapat tanpa mencabut persaudaraan.

Kita dapat menjaga jarak tanpa menyebarkan keburukan.

Barangkali selama ini kita terlalu sibuk mempelajari cara menghadapi manusia, tetapi lupa mempelajari cara memandang manusia. Kita mencari metode terbaik untuk mendidik anak, memimpin murid, menyelesaikan konflik, atau menghadapi orang yang menyakiti kita. Padahal sebelum seluruh metode itu digunakan, ada satu kesadaran yang perlu lebih dahulu diletakkan di dalam hati:

Orang yang sedang kita hadapi adalah umat Rasulullah ﷺ.

Kesadaran inilah yang akan mengendalikan ilmu, metode, dan emosi kita. Ia membuat tangan tidak mudah menghukum, lisan tidak mudah melukai, dan hati tidak mudah merasa lebih baik. Ia mengingatkan bahwa setiap manusia yang berada di hadapan kita memiliki kehormatan yang tidak boleh kita runtuhkan hanya karena satu kesalahan yang dilakukannya.

Rasulullah ﷺ mencintai umatnya. Beliau memikirkan keselamatan umatnya. Bahkan dalam tangis dan doanya, beliau menyebut, “Umatku, umatku.”

Lalu, bagaimana mungkin kita mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi begitu ringan menyakiti orang-orang yang beliau cintai?

Mungkin cinta kepada Rasul tidak hanya tampak dari banyaknya selawat yang kita ucapkan, tetapi juga dari seberapa aman umatnya dari lisan dan tangan kita.

Maka, sebelum menegur seorang anak, ingatlah: ia adalah umat Rasul.

Sebelum membicarakan keburukan saudara kita, ingatlah: ia adalah umat Rasul.

Sebelum mengeluarkan kata-kata ketika sedang marah, ingatlah: orang yang berdiri di hadapan kita adalah umat Rasul.

Semoga kesadaran itu membuat kita lebih lembut dan berhati-hati tanpa kehilangan keberanian, dan lebih mampu menjaga manusia sebagaimana kita berharap Allah menjaga diri kita.

Sebab boleh jadi, salah satu bukti cinta kita kepada Rasulullah ﷺ adalah kesungguhan kita menjaga hati umat yang begitu beliau cintai.

Tinggalkan Balasan