Anak Sebagai Ujian

Dalam buku Sentuhan Parenting, Kiai Budi Ashari menjelaskan empat posisi anak di dalam Al-Qur’an. Salah satunya adalah anak sebagai fitnah/sebagai ujian.

Allah menyebutkannya dengan sangat jelas dalam Surah Al-Anfāl ayat 28:

“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”

Peringatan yang hampir sama kembali Allah sampaikan dalam Surah At-Taghābun ayat 15:

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan, dan di sisi Allah pahala yang besar.”

Bahkan, dalam Surah Al-Munāfiqūn ayat 9, Allah memperingatkan orang-orang beriman agar dua hal yang sangat mereka cintai itu tidak mengambil tempat yang semestinya hanya dimiliki oleh Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”

Ayat-ayat ini membuat saya teringat kembali sebuah pepatah yang sering kita dengar: banyak anak, banyak rezeki. Tentu, anak memang rezeki. Kehadiran mereka membawa kebahagiaan, kasih sayang, juga pintu-pintu pahala yang sebelumnya mungkin tidak pernah ketahui. Namun, jika anak yang Allah titipkan kepada kita juga merupakan ujian, pepatah itu barangkali perlu dilengkapi: banyak anak, banyak rezeki; banyak anak, banyak pula amanah dan ujiannya.

Sebab, ujian tidak selalu hadir dalam bentuk sesuatu yang tidak kita sukai. Kadang-kadang, ujian justru datang melalui sesuatu yang paling kita cintai. Ia tidak selalu hadir untuk menyakiti, tetapi untuk menyingkap: siapa yang paling menguasai hati kita, ke mana cinta membawa kita, dan apakah nikmat itu semakin mendekatkan kita kepada Allah atau perlahan-lahan melalaikan kita dari-Nya.

Saya kemudian mencoba mencari tahu: dalam hal apa anak dapat menjadi ujian bagi orang tuanya?

Ada sebuah hadis yang membantu kita memahami hal itu. Suatu ketika, Hasan dan Husain berlari menghampiri Rasulullah ﷺ. Beliau lalu memeluk keduanya dan bersabda:

“Sesungguhnya anak itu mabkhalah dan majbanah.”

Dalam beberapa redaksi riwayat lain disebutkan pula majhalah dan mahzanah. Empat kata itu seakan memperlihatkan empat celah dalam diri orang tua yang dapat diuji melalui kecintaannya kepada anak.

Anak dapat menjadi mabkhalah: sesuatu yang mendorong orang tua menjadi bakhil. Karena memikirkan kebutuhan dan masa depan anak, seseorang dapat menjadi takut mengeluarkan hartanya di jalan Allah. Ia terus menyimpan karena khawatir anaknya kekurangan. Ia menahan sedekah karena merasa seluruh yang dimilikinya harus diamankan untuk keluarga. Bahkan, boleh jadi ia mulai membenarkan cara-cara yang tidak Allah sukai demi memastikan anaknya memperoleh kehidupan yang dianggap paling baik.

Padahal, tidak semua yang kita kumpulkan untuk anak benar-benar menjadi rezeki bagi mereka. Rezeki anak tidak berada di tangan orang tuanya, tetapi di tangan Allah. Orang tua hanya diminta berikhtiar secara halal, bukan menggantikan Allah sebagai penjamin hidup anak-anaknya.

Anak juga dapat menjadi majbanah: sesuatu yang mendorong orang tua menjadi takut atau kehilangan keberanian. Para ulama menjelaskan bahwa kecintaan kepada anak dapat membuat seseorang enggan berjuang karena takut mati dan meninggalkan mereka. Dalam kehidupan kita hari ini, bentuknya mungkin lebih luas. Demi kenyamanan anak, orang tua dapat takut menyampaikan kebenaran, takut mengambil sikap, atau memilih diam ketika prinsip-prinsip agama harus dibela. Bukan karena ia tidak mengetahui yang benar, tetapi karena ia terlalu takut jika pilihannya kelak mengurangi kenyamanan hidup anaknya.

Anak dapat pula menjadi majhalah: sesuatu yang menyebabkan orang tua tertinggal dalam ilmu. Bukan karena kehadiran anak membuat seseorang menjadi bodoh, melainkan karena seluruh tenaga, waktu, dan pikirannya habis untuk mengurus kebutuhan anak serta mencari harta bagi mereka, hingga ia tidak lagi menyediakan ruang untuk belajar. Ia sangat bersungguh-sungguh memikirkan sekolah anaknya, tetapi berhenti memikirkan pendidikan dirinya. Ia ingin anaknya mengenal Allah, sementara dirinya perlahan menjauh dari majelis ilmu.

Anak juga dapat menjadi mahzanah: sebab datangnya kesedihan. Ketika anak sakit, orang tua bersedih. Ketika anak terluka, orang tua ikut merasakan sakit. Ketika anak menginginkan sesuatu yang belum mampu diberikan, hati orang tua dapat dipenuhi rasa bersalah. Semakin besar cinta kepada anak, semakin besar pula bagian diri kita yang menjadi mudah terluka karenanya.

Kesedihan itu sendiri bukanlah dosa. Rasulullah ﷺ pun menangis ketika putra beliau, Ibrahim, wafat. Namun, kesedihan menjadi ujian: apakah ia membawa kita semakin dekat kepada Allah, atau justru membuat kita berburuk sangka kepada-Nya? Apakah kita tetap dapat menerima bahwa anak adalah milik Allah, atau tanpa sadar merasa bahwa kitalah yang paling berhak menentukan seluruh jalan hidupnya?

Menariknya, sabda tentang anak sebagai mabkhalah dan majbanah itu tidak disampaikan Rasulullah ﷺ ketika sedang menjauh dari anak-anak. Sabda itu terucap setelah beliau merengkuh Hasan dan Husain ke dalam pelukannya. Ada kasih sayang dan peringatan dalam satu peristiwa yang sama.

Seolah-olah Rasulullah ﷺ sedang mengajarkan bahwa mencintai anak tidaklah salah. Bahkan, cinta itu harus hadir dalam pelukan, kelembutan, perhatian, dan penjagaan. Namun, sebesar apa pun cinta kepada anak, ia tidak boleh mengalahkan cinta dan ketaatan kepada Allah.

Maka, anak menjadi ujian bukan hanya ketika ia sakit, sulit diatur, banyak menuntut, atau tidak tumbuh sebagaimana harapan kita. Anak juga dapat menjadi ujian ketika ia sehat, cerdas, berprestasi, dan membanggakan, jika semua itu membuat kita sombong dan merasa keberhasilannya sepenuhnya merupakan hasil didikan kita. Ujian tidak selalu terletak pada diri anak. Sering kali, ujian itu berlangsung di dalam hati orang tuanya.

Barangkali inilah yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri: setelah memiliki anak, apakah kita menjadi lebih dermawan atau justru semakin takut berbagi? Lebih berani membela kebenaran atau semakin gemar mencari jalan aman? Semakin berilmu atau berhenti belajar? Semakin bersandar kepada Allah atau semakin dikuasai ketakutan dan kesedihan?

Anak adalah rezeki, tetapi setiap rezeki membawa tanggung jawab. Anak adalah nikmat, tetapi setiap nikmat akan ditanyakan. Anak adalah amanah, dan amanah selalu mengandung ujian.

Karena itu, mungkin kita tidak cukup hanya berdoa agar Allah menganugerahkan anak-anak yang saleh. Kita juga perlu memohon agar Allah menjadikan kita orang tua yang saleh: orang tua yang mencintai anak-anaknya dengan sangat dalam, tetapi tetap menempatkan Allah di atas seluruh cinta; orang tua yang bekerja keras untuk anaknya, tetapi tidak melupakan akhirat; orang tua yang menjaga anaknya, tanpa merasa bahwa rezeki dan masa depan mereka berada sepenuhnya di tangannya.

Sebab, barangkali bukan hanya kita yang sedang mendidik anak-anak. Melalui mereka, Allah juga sedang mendidik kita.

Tinggalkan Balasan